"Sebenarnya niat dari MSCI mengatakan khawatir ada manipulasi pada free float kita, itu nggak tercapai. Jadi, kan tidak ada kita berpikir bahwa saham-saham gede kita, BCA, Mandiri, segala macam, itu tidak sama sekali melakukan rekayasa terhadap free float-nya. Even saham konglomerat kita pun, dia memang naik kencang, tapi kalau kita lihat, banyak ritel yang masuk ke dalam sana," papar Hans Kwee.
Menurutnya, evaluasi MSCI seharusnya tidak mengubah aturan secara retroaktif bagi emiten yang sudah ada di dalam indeks (existing), melainkan cukup diterapkan sebagai kriteria tambahan bagi emiten baru yang akan masuk di masa mendatang.
Sebelumnya, MSCI mengusulkan penggunaan data tambahan dari Monthly Holding Composition Report milik KSEI untuk menentukan estimasi free float berdasarkan nilai terendah. Dalam proposalnya, MSCI berencana mengklasifikasikan saham dalam bentuk warkat (script) dan kepemilikan korporasi sebagai non-free float.
Hans Kwee mengingatkan bahwa MSCI lebih menitikberatkan pada likuiditas dan jumlah saham beredar ketimbang aspek fundamental dalam menyusun indeksnya. Oleh karena itu, perubahan metodologi ini sangat sensitif bagi aliran dana asing.
"Jadi, harusnya evaluasi MSCI itu tidak mengubah aturan free float terhadap Indonesia. Mungkin ke depan, saham yang akan masuk ke sana, kriteria-nya akan ditambahkan. Tapi yang existing sekarang, kalau kita lihat, saat ini memang market kita koreksi," pungkas Hans Kwee.