Sementara, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) membuat biaya pendanaan lebih mahal sekaligus mengurangi minat masyarakat berbelanja melalui fasilitas pembiayaan.
Kondisi tersebut mendorong Sucor memangkas proyeksi laba emiten ritel untuk 2026-2027, yang kemudian diikuti dengan penurunan target harga dan penyesuaian rekomendasi pada beberapa saham.
Christofer menilai pelemahan daya beli menjadi tantangan terbesar bagi industri ritel saat ini. Inflasi pangan yang masih tinggi dan depresiasi rupiah menggerus pendapatan riil masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
Akibatnya, konsumen diperkirakan semakin selektif dalam berbelanja, memilih produk yang lebih murah, serta menunda pembelian barang yang tidak mendesak.
Pola tersebut berpotensi menekan jumlah pengunjung toko maupun nilai transaksi per pelanggan sehingga pemulihan pertumbuhan penjualan di gerai yang sama (same-store sales growth/SSSG) menjadi lebih sulit tercapai.