IDXChannel - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tengah menyiapkan "mesin uang" baru untuk bisa mengimbangi kontribusi Telkomsel bagi grup. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkap strategi ambisius di balik pembentukan unit bisnis infrastruktur digital, FiberCo, yang kini resmi beroperasi dengan brand InfraNexia di bawah naungan PT Telkom Infrastructure Future (TIF).
Langkah ini menjadi pilar utama dalam transformasi Telkom 30 untuk menciptakan kontributor pendapatan baru yang signifikan. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Desember lalu, Telkom telah menyetujui pemindahan aset fiber optic dari induk perusahaan (parent) ke TIF.
"Salah satu pilarnya juga adalah bagaimana membuat Telkomsel-Telkomsel kedua, dan ketiga, dan keempat. Jadi, kita tidak mau nanti kontributornya itu cuma Telkomsel saja yang besar. Kami ingin mempunyai pilar-pilar yang lain yang juga kontribusinya terhadap Telkom grup besar," ujar Dian Siswarini dalam program The Fundamentals IDX Channel, dikutip Selasa (13/1/2026).
Dian menjelaskan pemisahan (spin-off) aset infrastruktur ini bertujuan untuk memaksimalkan valuasi perusahaan di mata investor (unlock value). Menurutnya, aset serat optik jika tetap berada di dalam induk hanya dihargai rendah oleh pasar. Namun, akan melonjak jika berdiri sendiri sebagai perusahaan infrastruktur murni.
"Kalau aset tersebut ada di Telkom, aset tersebut di-value oleh investor sama dengan mobile business, yang mana dari segi multiple EBITDA paling cuma lima atau enam kali. Nah, kalau aset itu dipisahkan di dalam FiberCo, itu EBITDA multiple-nya bisa antara sembilan sampai dua belas kali. Jadi, jauh lebih besar," kata dia.
Selain valuasi, InfraNexia diharapkan menjadi lebih lincah dan inklusif. Jika sebelumnya aset serat optik Telkom mayoritas hanya melayani kebutuhan internal (Telkomsel), kini InfraNexia dibuka lebar untuk melayani operator lain, hyperscalers, perusahaan swasta, hingga pemerintah.
Untuk mengakselerasi pertumbuhan TIF, Telkom berencana melepas kepemilikan saham minoritas kepada mitra strategis, baik dari dalam maupun luar negeri. Dian membidik model kerja sama sukses Telkomsel-Singtel sebagai acuan utama dalam mencari partner bagi InfraNexia.
Dian mensyaratkan calon mitra tidak hanya membawa modal besar, tetapi juga keunggulan teknologi, tata kelola (governance) yang ketat, serta jaringan klien internasional.
"Kami juga ingin di TIF ini mempunyai partner seperti Singtel di Telkomsel. Jadi, nanti yang membantu kita tadi urusan governance, urusan operational discipline, urusan bagaimana kita menentukan teknologi yang lebih baik, bagaimana mendapatkan juga customers, termasuk international customers," kata Dian.
Mengingat nilai aset yang dipindahkan mencapai angka fantastis sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun, Telkom membuka peluang untuk melepas hingga 30 persen saham TIF kepada investor.
Meski demikian, Dian menegaskan Telkom akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas karena posisi infrastruktur serat optik merupakan aset jaringan paling krusial dalam ekosistem digital.
"Kalau misalnya tadi value-nya aset sekitar Rp80-90 triliun yang akan dipindahkan, itu kan lumayan besar. Kalau kita mau unlock, kemudian mau kita lepas 30 persen, itu lumayan besar dari sisi value. Mungkin memerlukan investor dari luar yang bisa berpartisipasi di situ," kata Dian.
Dengan InfraNexia, Telkom optimistis dapat memperkuat dominasinya di sektor infrastruktur digital sekaligus memberikan imbal hasil (dividend) yang lebih besar bagi para pemegang saham di masa depan.
(NIA DEVIYANA)