sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tensi Geopolitik Memanas, Ini Proyeksi Pergerakan Rupiah, Minyak, hingga Emas Pekan Depan

Market news editor Anggie Ariesta
19/07/2026 13:39 WIB
Pasar keuangan dan komoditas global diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan.
Tensi Geopolitik Memanas, Ini Proyeksi Pergerakan Rupiah, Minyak, hingga Emas Pekan Depan. (Foto: Magnific)
Tensi Geopolitik Memanas, Ini Proyeksi Pergerakan Rupiah, Minyak, hingga Emas Pekan Depan. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Pasar keuangan dan komoditas global diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan. 

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pergerakan indeks dolar, minyak mentah dunia, hingga emas dan logam mulia akan sangat dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta dinamika politik domestik di Amerika Serikat (AS).

Ibrahim mengatakan, posisi indeks dolar (USD) yang pada penutupan perdagangan terakhir berada di level 100,70, dalam satu minggu ke depan diperkirakan bergerak dalam rentang support di level 100,10 dan resistance di level 102,30.

Sementara itu, sektor komoditas energi diprediksi kembali mendidih. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang ditutup pada posisi USD82 per barel, diproyeksikan bergerak pada rentang USD70,20 sampai USD95 per barel sepekan ke depan. Untuk minyak mentah jenis Brent yang ditutup di level USD88,10, rentang pergerakannya diperkirakan berada di kisaran USD85 sampai USD100 per barel.

"Artinya kemungkinan besar harga minyak mentah baik WTI maupun Brent crude oil, kemungkinan besar akan kembali mengalami kenaikan yang cukup signifikan," kata Ibrahim dalam risetnya, Minggu (19/7/2026).

Di sisi lain, untuk logam mulia, harga emas dunia ditutup pada level USD4.016 per troy ounce, sedangkan harga logam mulia Antam berada di level Rp2.614.000 per gram.

Menurut Ibrahim, jika harga emas dunia mengalami koreksi, support pertama berada di level USD3,970 per troy ounce, dengan perkiraan logam mulia di level Rp2.590.000 per gram. 

Jika koreksi berlanjut dalam sepekan, harga emas dunia dapat menyentuh support kedua di level USD3.856 per troy ounce, berarti logam mulia di level Rp2.430.000 per gram.

Apabila harga emas dunia kembali menguat, resistance pertama berada pada level USD4.063 per troy ounce dan logam mulia di level Rp2.634.000 per gram. 

Jika penguatan berlanjut ke resistance kedua, emas dunia diproyeksikan menembus USD4.149 per troy ounce, dengan logam mulia di level Rp2.720.000 per gram. 

"Kemudian kalau seandainya naik, resisten kedua di Rp2.720.000 untuk logam mulia dalam sepekan itu diperdagangkan di Rp2.430.000 per gram sampai di Rp2.720.000 per gram," ujar Ibrahim.

Dengan demikian, dalam sepekan ke depan logam mulia domestik diperkirakan diperdagangkan pada rentang Rp2.430.000 per gram sampai Rp2.720.000 per gram, sementara emas dunia akan ditransaksikan di kisaran USD3.856 per troy ounce hingga USD4.149 per troy ounce.

Ibrahim membagi faktor fundamental penggerak pasar ke dalam empat klaster utama. Pertama, konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah AS menyasar infrastruktur di Iran, yang dibalas secara masif oleh Iran ke pangkalan-pangkalan AS.

Blokade angkatan laut oleh AS terhadap pelabuhan Iran, serta aksi kelompok Houthi di Laut Merah dan potensi penutupan Selat Hormuz, memicu lonjakan biaya transportasi dan logistik global yang berujung pada ancaman inflasi.

Di Eropa Timur, serangan sporadis Rusia dan aksi Ukraina yang menyasar kilang minyak Rusia turut menipiskan suplai minyak global.

Kemudian yang kedua, menjelang pemilu sela untuk pemilihan anggota DPR di AS, Partai Republik mendapatkan kritikan tajam terkait isu perang yang memicu tingginya inflasi, harga kebutuhan pokok, dan kenaikan harga gasoline (bensin). Situasi ini menjadi amunisi kampanye bagi Partai Demokrat untuk merebut basis-basis suara Partai Republik.

Ketiga, meskipun indeks harga konsumen dan produsen di AS sempat turun, potensi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak membuat The Fed diprediksi tetap mempertahankan suku bunga tinggi, atau bahkan menaikkannya kembali jika inflasi tak terkendali.

Para pejabat bank sentral seperti Christopher Waller, John Williams, Laurie Logan, hingga Gubernur Bank Sentral AS Kevin Wolf menegaskan bahwa The Fed bertindak independen tanpa intervensi Presiden Donald Trump.

Jika suku bunga dinaikkan lebih dari dua kali, hal ini akan berdampak pada penurunan harga emas global.

"Ada beberapa pejabat Bank Sentral Amerika salah satunya adalah Christopher Waller, kemudian John Williams, kemudian Gubernur Bank Sentral Amerika adalah Kevin Wolf yang mengatakan bahwa implasi, ya itu adalah salah satu yang menentukan Bank Sentral apakah akan menaikkan suku bunga atau menurunkan suku bunga dan Bank Sentral Amerika tidak akan diintervensi oleh Presiden Trump," jelas Ibrahim.

Faktor terakhir, di tengah ketidakpastian global, bank sentral di berbagai negara terus memupuk cadangan emas mereka.

Pada kuartal I-2026, bank sentral global mencatatkan peningkatan pembelian emas sebesar 17 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan kepemilikan cadangan mencapai 244 ton. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas cadangan devisa jangka panjang, bukan untuk keuntungan jangka pendek.

Ibrahim juga menggarisbawahi kondisi pelemahan Rupiah yang diproyeksikan masih akan terus berlanjut.

Namun, pelemahan nilai tukar Rupiah ini justru akan menjadi faktor penahan yang menjaga agar harga logam mulia di pasar domestik tidak merosot terlalu dalam. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement