sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Diproyeksi ke Rp17.860-Rp17.920

Market news editor Rohman Wibowo
18/08/2026 22:00 WIB
Rupiah diproyeksi melemah akibat tekanan dari meningkatnya gejolak geopolitik dan tingginya harga minyak mentah dunia.
Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Diproyeksi ke Rp17.860-Rp17.920. (Foto: iNews Media Group)
Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Diproyeksi ke Rp17.860-Rp17.920. (Foto: iNews Media Group)

Peningkatan harga minyak mentah internasional memberikan tekanan langsung terhadap neraca pembayaran dan cadangan devisa nasional. Ditambah lagi, beban finansial eksternal Indonesia menunjukkan tren kenaikan akibat penambahan porsi utang sektor publik.

"Secara sentimen internal, kenaikan harga minyak mentah di atas USD83 per barel meningkatkan beban devisa negara untuk impor energi karena lonjakan permintaan dolar AS menekan rupiah, ditambah catatan BI bahwa utang luar negeri (ULN) Indonesia triwulan II mencapai USD453,4 miliar atau tumbuh 4,4 persen secara tahunan," kata Ibrahim.

Di tengah fluktuasi rupiah, fokus pasar dalam negeri kini tertuju sepenuhnya pada jalannya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.

Keputusan BI mengenai arah suku bunga acuan (BI Rate) serta pandangan kepemimpinan Gubernur Perry Warjiyo mengenai stabilitas nilai tukar, inflasi, likuiditas, dan penyaluran kredit akan menjadi jangkar penentu nasib rupiah selanjutnya.

Fokus pasar dalam pekan ini tertuju penuh pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang tengah berlangsung sejak hari ini. Pelaku pasar menanti sinyal-sinyal kebijakan terbaru guna mengukur sejauh mana efektivitas intervensi penstabilan nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar finansial global.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement