AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Tergelincir, Rupiah Parkir di Level Rp14.741 Per USD

MARKET NEWS
Advenia Elisabeth/MPI
Senin, 15 Agustus 2022 15:52 WIB
Nilai tukar rupiah ditutup melemah sebanyak 73 poin di level Rp14.741 atas satu dolar Amerika Serikat (USD) dalam perdagangan sore ini, Senin (15/8).
Tergelincir, Rupiah Parkir di Level Rp14.741 Per USD. (Foto: MNC Media)
Tergelincir, Rupiah Parkir di Level Rp14.741 Per USD. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah sebanyak 73 poin di level Rp14.741 atas satu dolar Amerika Serikat (USD) dalam perdagangan sore ini, Senin (15/8). Hal itu tak lepas dari serangkaian data ekonomi terbaru dari China.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, salah satu faktor ekternal pemicu mata uang garuda ini melemah karena Dolar AS naik lebih tinggi setelah serangkaian data baru yang mengecewakan dari China, mitra dagang utama.

Serta People's Bank of China (PBOC) secara tak terduga menurunkan biaya pinjaman untuk pinjaman kebijakan jangka menengah dan alat likuiditas jangka pendek untuk kedua kalinya sebesar 10 basis poin menjadi 2,75%.

"Data ekonomi yang dirilis Senin sebelumnya menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi China secara tak terduga melambat pada Juli, karena ekonomi terbesar kedua di dunia itu berjuang untuk melepaskan pukulan terhadap pertumbuhan pada kuartal kedua dari pembatasan ketat COVID-19," terang Ibrahim dalam rilis hariannya. 

Sementara dari sisi internal, kata dia dipicu oleh Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang masih mencetak surplus pada Juli 2022.

Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat surplus neraca perdagangan barang Indonesia pada bulan tersebut sebesar USD4,23 miliar. Lebih besar dibandingkan konsensus pasar yang memprediksi Surplus Neraca Perdagangan pada Juli sebesar USD3,81 miliar.

"Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan surplus Juni 2022 yang sebesar USD5,09 miliar," papar Ibrahim.

Secara kumulatif, lanjutnya, surplus neraca perdagangan Indonesia periode Januari hingga Juli tahun ini sebesar USD29,17 miliar. Surplus neraca perdagangan sudah berlangsung selama 27 bulan berturut-turut atau sejak Mei 2020.

Lebih lanjut Ibrahim memprediksi, untuk perdagangan besok, Selasa (16/8) mata uang rupiah dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.720-14.800. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD