Saham Tesla juga anjlok di tengah kekhawatiran kondisi di China. Pembuat mobil listrik ini menghentikan operasi di pabrik Shanghai, yang merupakan pabrik terbesarnya, pada bulan Desember yang menyebabkan anjloknya harga saham.
Meta juga menghadapi penurunan tajam sepanjang tahun lalu. Pada 2022, Meta menghadapi risiko yang timbul dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global, persaingan dari TikTok, perubahan privasi dari Apple, dan kekhawatiran atas pengeluaran besar-besaran di metaverse.
Pada November, Meta mengatakan akan memangkas lebih dari 11.000 pekerjanya, atau 13% dari total tenaga kerjanya, di tengah pasar periklanan yang runtuh dan inflasi yang tinggi.
Saham Meta terpantau merosot secara konsisten sejak Oktober setelah perusahaan media sosial ini memperkirakan pendapatan kuartalan yang lemah dan lebih banyak biaya pada 2023.
Saham platform video streaming Netflix turun 51% pada tahun 2022, kinerja tahunan terburuk sejak 2004.
Saham media terguncang tahun ini, dengan perusahaan kehilangan nilai pasar miliaran dolar, karena pertumbuhan pelanggan streaming berkurang dan pasar iklan memburuk.
Netflix melaporkan kehilangan pelanggan berbayarnya untuk kuartal hingga Juni. Kondisi ini menjadi yang pertama kali dalam lebih dari 10 tahun.
Saham Apple turun 26,8% pada 2022, kinerja tahunan terburuk sejak 2008. Saham Alphabet juga turun 39% pada 2022, mencatat kinerja tahunan terburuk sejak 2008 karena penurunan revenue.
Lebih kalem dari pesaingnya di AS, kinerja saham-saham tekno di China tak separah Tesla dkk.
Sejak pecahnya pandemi pada 2020, China telah mengadopsi kebijakan nol-Covid yang berupaya melakukan lockdown ketat. Tetapi kebijakan itu telah membebani ekonomi dan merugikan bisnis.
Raksasa tekno seperti Tencent dan Alibaba membukukan tingkat pertumbuhan pendapatan paling lambat pada tahun 2022.
Saham Alibaba group tercatat turun 26,2%, sementara Tencent turun 23,84%. Adapun JD.com dan Baidu Inc turun masing-masing 16,64% dan 19,64%. Weibo Corp turun paling dalam sebesar 39,89% di antara empat lainnya. (Lihat grafik di bawah ini.)

Para analis secara luas melihat pertumbuhan sektor teknologi China yang diramalkan akan berakselerasi pada tahun 2023. Proyeksi ini didukung karena pembukaan China setelah lockdown panjang.
Namun, secara pertumbuhan kemungkinan tidak akan sama dengan sebelumnya di mana pendapatan triwulanan diproyeksikan akan melonjak dari sebelumnya 30% menjadi 40%.
Alibaba diperkirakan akan melihat lonjakan pendapatan 2% secara year on year (YoY) pada kuartal keempat tahun ini. Sebelum meningkat menjadi lebih dari 6% pada kuartal hingga Maret 2023 dan 12% pada kuartal Juni, berdasarkan kajian Refinitiv.
Tencent, sementara itu, diperkirakan akan membukukan pertumbuhan pendapatan yoy hanya 0,5% pada kuartal Desember diikuti oleh 7% pada kuartal pertama 2023 dan 10,5% pada kuartal kedua.
“Kami positif pada prospek sektor internet 2023 sehubungan dengan pembukaan kembali China dan meningkatnya sentimen konsumen,” kata analis di bank investasi Jefferies dalam catatan penelitian bulan lalu mengutip CNBC Internasional, Selasa (3/1/23).
Analis di bank investasi tersebut juga memperkirakan pertumbuhan industri periklanan online akan pulih pada tahun 2023. Namun, mereka juga memperingatkan pertumbuhan akan sangat bergantung pada lingkungan makro. (ADF)