sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tertekan Aksi Jual, Imbal Hasil Obligasi RI Berpotensi Tinggi hingga Akhir 2026

Market news editor Rohman Wibowo
18/06/2026 17:59 WIB
Pasar obligasi Indonesia berpotensi menghadapi transisi seiring dengan terbentuknya tren imbal hasil tinggi (higher yield environment).
Tertekan Aksi Jual, Imbal Hasil Obligasi RI Berpotensi Tinggi hingga Akhir 2026. Foto: Freepik.
Tertekan Aksi Jual, Imbal Hasil Obligasi RI Berpotensi Tinggi hingga Akhir 2026. Foto: Freepik.

Namun, memasuki Maret 2026, indeks mengalami koreksi yang cukup tajam sebelum akhirnya berhasil pulih atau rebound pada April 2026. Kondisi kembali berbalik menekan pada Juni 2026 ini, di mana pasar melemah sangat signifikan hingga mencatatkan performa tahun berjalan (year-to-date/ytd) minus 3,84 persen untuk nilai HB dan minus 3,35 persen untuk harga bersih.

Salvian menyoroti soal koreksi pada tahun berjalan ini berbanding terbalik dengan tren pertumbuhan historis sejak masa awal pandemi Covid-19 pada 2020, di mana nilai HB secara kumulatif sempat melonjak hingga 39 poin. Puncak tingkat pengembalian tertinggi bahkan dinikmati investor pada tahun lalu karena harga obligasi bergerak stabil meski tidak mengalami lonjakan drastis. 

Berbeda dengan situasi tersebut, kata Salvian, hingga posisi 12 Juni 2026, nilai HB justru terpangkas sedalam 16 poin. Secara historis pada 2021, 2022, dan 2024, kupon obligasi selalu andal bertindak sebagai jangkar penyelamat yang menjaga total imbal hasil tetap positif di tengah merosotnya harga aset. 

Namun, kejatuhan harga bersih atau clean price pada pertengahan tahun ini tercatat sangat masif hingga menyeret kinerja HB, indeks syariah sukuk, serta indeks komposit obligasi ke salah satu titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Kata Salvian, koreksi tajam pada harga bersih obligasi komposit ini memicu pertanyaan krusial mengenai sektor mana yang menanggung beban tekanan terdalam.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement