AALI
8650
ABBA
234
ABDA
6025
ABMM
4350
ACES
635
ACST
188
ACST-R
0
ADES
7200
ADHI
745
ADMF
8325
ADMG
167
ADRO
3920
AGAR
292
AGII
2470
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
98
AHAP
99
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1340
AKSI
328
ALDO
690
ALKA
288
ALMI
396
ALTO
173
Market Watch
Last updated : 2022/09/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
543.16
1.03%
+5.54
IHSG
7153.37
0.58%
+40.92
LQ45
1026.02
0.99%
+10.04
HSI
17441.20
-2.35%
-419.11
N225
26029.38
-2.04%
-542.49
NYSE
13541.76
-0.29%
-38.64
Kurs
HKD/IDR 1,938
USD/IDR 15,230
Emas
794,809 / gram

The Fed Sebut Suku Bunga AS Bisa Tembus 4,6 Persen di 2023

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Kamis, 22 September 2022 06:30 WIB
Federal Reserve (The Fed) memperkirakan kenaikan suku bunga acuan bakal menembus level 4,4 persen pada akhir 2022, dan 4,6 persen pada 2023.
The Fed Sebut Suku Bunga AS Bisa Tembus 4,6 Persen di 2023 (FOTO: Dok MNC Media)
The Fed Sebut Suku Bunga AS Bisa Tembus 4,6 Persen di 2023 (FOTO: Dok MNC Media)

IDXChannel - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) memperkirakan kenaikan suku bunga acuan bakal menembus level 4,4 persen pada akhir 2022, dan 4,6 persen pada 2023.

Ini merupakan proyeksi triwulanan para pejabat Fed setelah baru saja mengerek 75 basis poin (bps) atau 0,75 persen dalam gelaran rapat FOMC, Kamis dini hari (22/9/2022). Diketahui, saat ini Fed funds rate terbaru berada di kisaran 3,00 persen-3,25 persen, dari sebelumnya 2,25 persen-2,50 persen.

Seiring perkembangan ekonomi ke depan, apabila prediksi itu dilaksanakan, maka angka kenaikan 75 bps akan menjadi keempat kalinya berturut-turut, yang jadi-atau-tidaknya bakal diputuskan pada pertemuan November mendatang.

Lebih jauh, The Fed juga membaca tren suku bunga akan melandai hingga 3,9 persen pada tahun 2024, serta 2,9 persen pada tahun 2025, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Kamis (22/9/2022).

Estimasi dari otoritas tertinggi keuangan AS itu menggarisbawahi tekad The Fed dalam mengekang gejolak inflasi yang masih panas, meskipun ada risiko bahwa dengan mengerek bunga pinjaman maka dapat mendorong ekonomi Paman Sam tersungkur dalam jurang resesi.

Fed yang sebelumnya dikecam, karena dinilai lambat dalam merespons peningkatan tekanan harga, saat ini justru berbalik secara agresif untuk mengejar ketertinggalan, dan saat ini memilih pengetatan kebijakan paling agresif sejak The Fed dipimpin oleh Paul Volcker sejak empat dekade lalu.

Seperti diketahui, inflasi Amerika Serikat memuncak 9,1 persen pada bulan Juni, yang kemudian secara perlahan melandai, meskipun penurunannya tidak secepat yang diperkirakan. Pada bulan Agustus, inflasi AS masih berada di level 8,3 persen.

Kebijakan peningkatan suku bunga merupakan pilihan bagi The Fed untuk membawa inflasi berada di target 2 persen, kendati jalan yang diambil terjal dan berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi AS. (RRD)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD