IDXChannel - Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia dinilai berpeluang berkurang dalam beberapa pekan mendatang.
BRI Danareksa Sekuritas melihat risiko yang berasal dari arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, dan lonjakan harga minyak mulai menunjukkan potensi mereda, meski dua risiko struktural masih membayangi.
Dalam riset yang diterbitkan Selasa (2/6/2026), analis BRI Danareksa menyebut tekanan tersebut berasal dari arus keluar dana asing terkait MSCI, pelemahan rupiah, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik, risiko peringkat utang negara, serta ketidakpastian kebijakan.
Menurut BRI Danareksa, tekanan dari rebalancing MSCI pada dasarnya telah mencapai fase akhir setelah implementasi perubahan indeks pada 29 Mei. Broker tersebut mencatat aksi jual pada saham-saham bank besar telah melampaui estimasi agresif mereka, sehingga sebagian besar tekanan teknikal diperkirakan sudah terserap pasar.
Risiko kedua berasal dari pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.700-Rp17.800-an per USD meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps).
Namun, BRI Danareksa melihat pelemahan tersebut banyak dipengaruhi faktor musiman, terutama kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan musim haji pada kuartal II.
Tekanan tersebut secara historis cenderung mereda memasuki kuartal III sehingga memberikan peluang pemulihan dalam empat hingga enam pekan ke depan.
Sementara itu, premi risiko akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik juga dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
BRI Danareksa mencatat Indonesian Crude Price (ICP) sempat mencapai USD117 per barel pada April, jauh di atas rata-rata tahun berjalan sebesar USD88 per barel.
Namun, apabila proses negosiasi damai terus berlanjut, kekhawatiran pasar terhadap dampak perang berpotensi berangsur surut.
Di sisi lain, dua faktor lain masih menjadi pekerjaan rumah yang lebih besar. BRI Danareksa mencatat S&P masih mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil pada April, tetapi Moody's dan Fitch masih menempatkan Indonesia pada outlook negatif.
Karena itu, peninjauan S&P pada Juli 2026 menjadi salah satu agenda penting yang akan dicermati investor.
Risiko terakhir adalah ketidakpastian kebijakan yang dinilai bersifat struktural. Faktor ini juga menjadi perhatian lembaga pemeringkat dan tidak memiliki solusi jangka pendek.
Menurut BRI Danareksa, pemulihan persepsi pasar memerlukan langkah tata kelola yang lebih konkret dengan jangka waktu perbaikan yang bisa mencapai 12 hingga 18 bulan.
Dengan tiga risiko jangka pendek yang berpotensi mereda dan dua risiko struktural yang masih membutuhkan waktu untuk dibenahi, BRI Danareksa menilai profil risiko pasar Indonesia mulai menunjukkan asimetri yang menarik, di mana peluang kenaikan dinilai lebih besar dibandingkan potensi penurunan dalam jangka pendek.
“Asimetrinya menarik, potensi naik lebih besar dari potensi turun,” kata BRI Danareksa. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.