Jeffry pun menjelaskan bahwa langkah penguatan di level korporasi dan juga investor tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari program reformasi pasar modal yang kini tengah digenjot oleh BEI, OJK bersama lembaga SRO lainnya.
"Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi. Di lain pihak, investor juga perlu memahami profil risiko masing-masing (perusahaan) lewat kekuatan fundamental bisnisnya, lewat analisis yang memadai. Jadi tidak semata-mata mengikuti tren pasar. Tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO," ujar Jeffry.
Pesan Jeffry tersebut diamini oleh Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo, yang juga turut hadir dalam kesempatan yang sama.
Mendukung pernyataan Jeffry, Agus juga menegaskan bahwa di tengah tekanan suku bunga yang dialami sektor perbankan, seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) hingga satu persen secara akumulatif sejak awal tahun, pihaknya telah memilih untuk mengedepankan pertumbuhan yang sehat dan berkualitas.
Dengan demikian, tren kinerja bisnis ke depan diharapkan dapat tetap stabil di tengah dinamika industri keuangan dalam negeri.