sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tradisi Positif IHSG di Agustus, Pasar Tertuju pada Suksesi Gubernur BI

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
03/08/2026 06:39 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki Agustus 2026 dengan modal reli terkuat sepanjang tahun setelah melonjak sekitar 10 persen pada Juli.
Tradisi Positif IHSG di Agustus, Pasar Tertuju pada Suksesi Gubernur BI. (Foto: MNC Media)
Tradisi Positif IHSG di Agustus, Pasar Tertuju pada Suksesi Gubernur BI. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki Agustus 2026 dengan modal reli terkuat sepanjang tahun setelah melonjak sekitar 10 persen pada Juli.

Meski mulai bangkit dari tekanan jual yang mengguncang pasar sejak awal tahun, keberlanjutan penguatan IHSG akan diuji oleh sejumlah sentimen, mulai dari belum terisinya kursi Gubernur Bank Indonesia (BI), data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), hingga arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Dalam laporan Monthly Outlook Agustus 2026, yang terbit pada 31 Juli 2026, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai penguatan IHSG pada bulan ini masih berpeluang berlanjut, meski tidak sekuat pola historisnya.

Hal itu karena pasar harus menunggu kepastian mengenai pengganti Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga AS.

Sepanjang Juli 2026, IHSG melonjak 10,28 persen, menjadi kenaikan bulanan terbaik sepanjang tahun.

Reli tersebut memangkas sekitar sepertiga pelemahan indeks sejak awal tahun sekaligus mengangkat IHSG kembali ke atas rata-rata pergerakan (moving average/MA) 10 hari dan 20 hari.

Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 53,6, yang menunjukkan ruang penguatan masih terbuka.

Secara historis, Agustus juga menjadi bulan yang bersahabat bagi pasar saham Indonesia.

Sejak 2020 hingga 2025, IHSG selalu ditutup menguat pada bulan tersebut dengan rata-rata kenaikan 2,83 persen.

Pada Agustus tahun lalu, IHSG bahkan naik 4,63 persen dan menjadi awal dari rangkaian rekor tertinggi indeks.

Meski demikian, Liza memperkirakan probabilitas IHSG mencatatkan kenaikan pada Agustus tahun ini berada di kisaran 60-65 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat keberhasilan historis yang mencapai 100 persen.

Penurunan probabilitas itu terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian mengenai suksesi Gubernur BI serta potensi gejolak dari data ekonomi AS.

Menurut Liza, faktor penentu utama pergerakan pasar bukan lagi kondisi fundamental ekonomi domestik, melainkan siapa yang akan ditunjuk sebagai Gubernur BI.

Saat ini, Destry Damayanti, Muliaman D. Hadad, Aida S. Budiman, dan Thomas Djiwandono menjadi nama-nama yang beredar sebagai kandidat.

Selain penunjukan Gubernur BI, investor juga akan mencermati penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027 yang diperkirakan berlangsung sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Dokumen tersebut akan menjadi petunjuk mengenai asumsi pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, pembiayaan negara, hingga kemungkinan sinyal terkait kepemimpinan baru BI.

Dari eksternal, perhatian pasar akan tertuju pada data ketenagakerjaan AS, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada 7 Agustus.

Setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menghentikan praktik forward guidance, data ekonomi menjadi faktor utama yang menentukan ekspektasi suku bunga The Fed dan arah aliran dana ke pasar negara berkembang.

Untuk Agustus, Kiwoom memproyeksikan skenario dasar (base case) IHSG bergerak di kisaran 6.050 hingga 6.450.

Skenario tersebut mengasumsikan pemerintah memilih figur Gubernur BI yang dinilai mampu menjaga kesinambungan kebijakan, sementara data tenaga kerja AS tidak memberikan kejutan besar. Dalam kondisi itu, IHSG diharapkan bertahan di atas area penting 6.220, sebelum menguji rentang 6.285-6.385.

Dalam skenario dasar tersebut, Liza melihat sejumlah sektor dan saham berpeluang menjadi penerima manfaat utama.

Sektor perbankan menjadi pilihan utama Kiwoom. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) diperkirakan menjadi yang pertama menikmati sentimen positif apabila pemerintah menunjuk Gubernur BI yang dinilai ramah pasar.

Optimisme itu juga ditopang oleh harapan agar koordinasi kebijakan antara Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Danantara dapat diterjemahkan menjadi dukungan nyata bagi perekonomian.

Selain itu, Kiwoom juga mencermati sektor logam, khususnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM).

Menurut perusahaan sekuritas tersebut, peluang pelemahan dolar AS apabila The Fed mengambil sikap yang lebih akomodatif dapat menjadi katalis positif bagi harga logam.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dinilai berpotensi memperoleh sentimen positif sebagai salah satu aset terbesar dalam portofolio Danantara.

Saham ini diperkirakan diuntungkan apabila kerangka koordinasi KSSK-Danantara mampu mendorong dukungan pemerintah yang lebih nyata terhadap emiten-emiten berkapitalisasi besar (blue chip).

Sebaliknya, jika pemerintah menunjuk figur yang dipersepsikan lebih politis atau data NFP jauh lebih kuat dari perkiraan sehingga memperkecil peluang penurunan suku bunga The Fed, IHSG berisiko turun ke area 5.900-6.050.

Namun apabila penunjukan Gubernur BI diterima positif oleh pasar dan data tenaga kerja Negeri Paman Sam melemah, indeks berpotensi melaju ke kisaran 6.450-6.950 sebagai langkah awal menuju target akhir tahun di level 7.000.

"Penunjukan Thomas Djiwandono atau data NFP yang lebih kuat dari perkiraan merupakan dua peristiwa yang paling mungkin mematahkan pola musiman Agustus ini. Keduanya patut dicermati, tetapi belum menjadi base case kami," tulis Liza. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement