Harga minyak sempat turun sesaat setelah pengumuman tersebut, namun kembali menguat seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi.
Global Equity Strategist Wells Fargo Investment Institute, Doug Beath menyebut ketidakpastian diplomatik menjadi faktor utama tekanan pasar.
“Ketidaksinkronan diplomatik antara AS dan Iran pekan ini membuat investor cemas. Pada akhirnya, selera risiko tidak mampu bertahan di tengah kabut perang,” ujarnya.
Sementara itu, President & Macro Strategist Bianco Research, Jim Bianco menilai pernyataan dari pihak AS tidak lagi berdampak besar bagi pasar. “Setiap pernyataan Trump soal kesepakatan hanya menjadi noise bagi pasar. Hanya jika Iran menyatakan negosiasi berjalan baik, itu baru akan berdampak,” katanya.
Harga minyak mentah Brent melonjak 3,4 persen ke level USD105,32 per barel, dari sekitar USD70 sebelum perang dimulai. Minyak mentah AS juga naik 5,5 persen menjadi USD99,64 per barel.