Macquarie memperkirakan harga minyak bisa menembus USD200 per barel jika konflik berlangsung hingga akhir Juni 2026. Kondisi ini berisiko memicu inflasi global akibat terganggunya produksi dan distribusi energi di Teluk Persia.
Di pasar saham, mayoritas emiten di S&P 500 melemah, termasuk saham teknologi besar seperti Amazon dan Meta yang masing-masing turun sekitar 4 persen, serta Nvidia yang turun 2,2 persen. Saham sektor konsumsi non-primer juga tertekan, di antaranya Norwegian Cruise Line, Starbucks, dan Chipotle.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menambah tekanan. Yield Treasury tenor 10 tahun sempat naik ke 4,48 persen sebelum ditutup di 4,43 persen, yang berdampak pada kenaikan suku bunga kredit dan berpotensi memperlambat ekonomi.
(Rahmat Fiansyah)