sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Beragam, Penurunan Saham Semikonduktor Bebani S&P 500 dan Nasdaq

Market news editor Nia Deviyana
16/07/2026 22:52 WIB
S&P 500 dan Nasdaq melemah seiring berlanjutnya penurunan saham-saham semikonduktor yang menutupi sentimen positif musim laporan keuangan kuartal II. 
Wall Street Dibuka Beragam, Penurunan Saham Semikonduktor Bebani S&P 500 dan Nasdaq. Foto: AP.
Wall Street Dibuka Beragam, Penurunan Saham Semikonduktor Bebani S&P 500 dan Nasdaq. Foto: AP.

IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka beragam pada perdagangan Kamis (16/7/2026) dengan S&P 500 dan Nasdaq melemah seiring berlanjutnya penurunan saham-saham semikonduktor yang menutupi sentimen positif musim laporan keuangan kuartal II. 

Investor juga mencermati data ekonomi terbaru untuk mencari petunjuk mengenai kondisi perekonomian AS.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 82,28 poin atau 0,16 persen menjadi 52.740,92. Sementara itu, S&P 500 turun 29,56 poin atau 0,39 persen ke 7.542,84, dan Nasdaq Composite melemah 262,08 poin atau 1,00 persen menjadi 26.007,14.

Saham-saham semikonduktor memperpanjang pelemahan dari sesi sebelumnya. Indeks semikonduktor Philadelphia SE (SOX) turun 3,8 persen.

Saham TSMC yang diperdagangkan di AS turun 2,5 persen, meskipun produsen chip AI tersebut melaporkan kinerja keuangan yang sangat kuat. Hal itu justru memicu volatilitas di pasar.

Produsen chip memori menjadi salah satu pemberat terbesar, dengan saham Western Digital dan Seagate Technology masing-masing anjlok 7,3 persen, sementara Micron Technology turun 4,8 persen.

Sepanjang tahun ini, saham-saham chip menjadi salah satu pendorong utama reli pasar berkat optimisme terhadap belanja kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan hyperscaler, yang turut membawa Wall Street mencetak rekor tertinggi.

Pendiri sekaligus CEO Sartorial Wealth Inc, Shiraz Ahmed, mengatakan reli saham chip mulai mendingin bukan karena prospek AI melemah, melainkan karena adopsi AI secara luas masih belum sepenuhnya terjadi. Akibatnya, belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar masih terus berlangsung di seluruh ekosistem AI, mulai dari sektor energi hingga semikonduktor.

Indeks acuan S&P 500 telah menguat lebih dari 10 persen sepanjang tahun ini dan masih berada dekat dengan rekor penutupan tertinggi pada Juni. Kondisi tersebut membuat reli pasar rentan terhadap kekecewaan jika muncul sentimen negatif.

Sektor consumer staples memimpin penguatan di S&P 500 dengan kenaikan 2,1 persen, sementara penurunan 1,9 persen pada sektor teknologi informasi membatasi penguatan indeks secara keseluruhan.

Investor juga mencermati data penjualan ritel AS pada Juni yang hanya mencatat kenaikan tipis karena turunnya harga bensin menekan penerimaan di SPBU. Meski demikian, konsumen yang berburu harga murah masih menopang belanja masyarakat secara keseluruhan.

Secara terpisah, klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun menjadi 208.000 pada pekan yang berakhir 11 Juli, lebih rendah dibandingkan perkiraan para ekonom.

Laporan inflasi Juni yang relatif jinak pada awal pekan ini juga meredakan kekhawatiran Federal Reserve (The Fed) akan kembali memperketat kebijakan moneternya.

Berdasarkan alat FedWatch milik CME, pasar saat ini memperkirakan sekitar 88 persen peluang bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan ini.

Dalam deretan laporan keuangan kuartalan yang positif, UnitedHealth menaikkan proyeksi laba 2026 sehingga saham perusahaan asuransi kesehatan tersebut melonjak 7,8 persen dan membantu menopang indeks Dow Jones. Sektor kesehatan menguat 2 persen.

Di sisi lain, risiko geopolitik tetap menjadi perhatian karena ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih berlangsung.

Iran disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran, menurut sumber Reuters. Langkah tersebut berpotensi menimbulkan ancaman baru terhadap pasokan energi global.

Saham United Airlines turun 2,8 persen karena lonjakan kembali harga minyak membebani prospek laba perusahaan pada kuartal III dan sepanjang tahun.

Sementara itu, saham GE Aerospace turun 4,4 persen, meskipun produsen mesin pesawat tersebut menaikkan proyeksi laba 2026.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement