IDXChannel - Pasar saham Amerika Serikat (AS) bergerak terbatas pada pembukaan perdagangan Selasa (13/1/2026) waktu setempat setelah rilis data inflasi terbaru. Kondisi ini terjadi menyusul penutupan indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang sebelumnya mencetak rekor tertinggi.
Indeks DJIA turun tipis 78 poin atau 0,2 persen. Sementara itu, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite cenderung stagnan. Setiap penguatan lanjutan kepada indeks tersebut berpotensi mencetak rekor penutupan baru.
Dari pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor dua tahun turun ke level 3,54 persen, sedangkan yield tenor 10 tahun melemah ke 4,18 persen.
Data inflasi AS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) Desember 2025 naik 2,7 persen secara tahunan, sesuai dengan ekspektasi pasar. Adapun CPI inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat sebesar 2,6 persen, lebih rendah dari perkiraan analis.
Kepala Strategi Ekonomi dan pasar ClearBridge Investments, Jeff Schulze menilai, data tersebut memberikan sinyal positif, namun belum cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan moneter dalam waktu dekat. Dia menyebut, The Federal Reserve masih akan bersikap hati-hati.
“Investor akan menyambut data ini sebagai bukti lanjutan kemajuan disinflasi, tetapi The Fed tetap berada dalam mode menunggu dan melihat (wait and see),” ujarnya dikutip dari The Barrons.
Schulze menambahkan, rilis CPI ini meningkatkan peluang dukungan kebijakan moneter tambahan pada 2026, seiring kondisi inflasi yang semakin terkendali.
Respons awal pasar terhadap data inflasi sempat positif, ditandai dengan lonjakan kontrak berjangka saham dan penurunan yield obligasi. Namun, pergerakan tersebut berbalik arah setelah pelaku pasar mencermati detail data secara lebih mendalam.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Strategi Ekonomi Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner yang menilai tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
“Inflasi memang tidak memanas kembali, tetapi masih berada di atas target. Sementara data keterjangkauan perumahan belum membaik,” katanya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga pada Januari tercatat sebesar 5 persen, naik tipis dari 4,4 persen sehari sebelumnya. Sementara itu, pasar memperkirakan peluang suku bunga bertahan hingga Juni sebesar 31 persen.
Di sisi korporasi, musim laporan keuangan mulai bergulir dengan hasil beragam. JPMorgan Chase dan Delta Air Lines menjadi dua emiten besar yang membuka musim rilis kinerja kuartalan.
(Rahmat Fiansyah)