sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Melemah Dipicu Ketidakpastian Tarif Trump

Market news editor Nia Deviyana
23/02/2026 22:01 WIB
Investor kini dalam mode wait and see setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bea masuk baru sebesar 15 persen.
Wall Street Dibuka Melemah Dipicu Ketidakpastian Tarif Trump. Foto: iNews Media Group.
Wall Street Dibuka Melemah Dipicu Ketidakpastian Tarif Trump. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada Senin (23/2/2026) dipicu ketidakpastian tarif yang kembali muncul. Investor kini dalam mode wait and see setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bea masuk baru sebesar 15 persen, menyusul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan tarif-tarif sebelumnya.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 89,4 poin atau 0,18 persen menjadi 49.536,54 saat pembukaan. Indeks S&P 500 (.SPX) turun 8,3 poin atau 0,12 persen menjadi 6.901,25, sementara Nasdaq Composite (.IXIC) merosot 45,1 poin atau 0,20 persen menjadi 22.840,972.

Mahkamah Agung AS pada Jumat pekan lalu membatalkan tarif darurat Trump, yang kemudian mendorongnya mengumumkan tarif baru sebesar 10 persen untuk seluruh dunia, sebelum kemudian menaikkannya menjadi 15 persen pada Sabtu.

"Lanskap tarif kini lebih tidak pasti dari sebelumnya, dan ketidakpastian bukanlah kabar baik bagi ekonomi maupun pasar mana pun,” kata Senior FX strategist di NAB, Rodrigo Catril.

Belum jelas kapan tarif baru tersebut akan diberlakukan, apa saja yang mungkin dikecualikan, dan apakah setiap negara akan dikenakan tarif 15 persen. 

Beberapa negara, termasuk Inggris dan Australia, sebelumnya dikenakan tarif 10 persen, sementara banyak negara di Asia menghadapi tarif yang lebih tinggi.

Yale Budget Lab menyatakan bahwa rata-rata efektif tarif keseluruhan akan berada di 13,7 persen setelah pengumuman Trump pada Sabtu, turun dari 16 persen, level tertinggi sejak 1936, sebelum putusan Mahkamah Agung.

Lembaga tersebut menambahkan bahwa mereka memperkirakan tarif 15 persen itu akan berakhir setelah 150 hari, sesuai dengan Trade Act 1974 yang menjadi dasar penetapannya. Jika demikian, rata-rata tarif akan turun menjadi 9,1 persen.

Dolar AS sempat melemah dalam perdagangan Asia dan awal Eropa, namun terakhir tercatat stabil ketika investor masih mencoba memahami ketidakpastian kebijakan tersebut.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement