sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Melemah, Kenaikan Yield Obligasi Tekan Pasar

Market news editor Nia Deviyana
19/05/2026 22:17 WIB
Hal tersebut seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.
Wall Street Dibuka Melemah, Kenaikan Yield Obligasi Tekan Pasar. Foto: AP.
Wall Street Dibuka Melemah, Kenaikan Yield Obligasi Tekan Pasar. Foto: AP.

IDXChannel - Indeks utama Wall Street turun pada Selasa (19/5/2026) tertekan saham sektor konsumsi non-primer (consumer discretionary) serta kekhawatiran inflasi yang kembali muncul. Hal tersebut seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terus melonjak, mencapai level tertinggi sejak Januari 2025 di 4,663 persen.

“Kita masih berada dalam kondisi makroekonomi yang kurang ideal untuk saham,” kata analis senior di Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya, dilansir Reuters.

Dow Jones turun 239,85 poin atau 0,48 persen ke 49.446,27, S&P 500 turun 43,50 poin atau 0,59 persen ke 7.359,55, dan Nasdaq melemah 217,87 poin atau 0,83 persen ke 25.872,86.

Laporan laba yang lebih baik dari perkiraan serta estimasinya sejauh ini sudah diserap dan tercermin dalam harga. Pasar kini kembali fokus pada risiko makroekonomi dan geopolitik, dan hal ini menekan saham teknologi yang sebelumnya sudah naik.

Tujuh dari 11 sektor utama di S&P 500 berada di zona merah, dengan sektor material memimpin penurunan sebesar 2,3 persen. Penurunan di sektor konsumsi non-primer menjadi beban terbesar bagi S&P 500.

S&P 500 dan Nasdaq yang didominasi saham teknologi juga ditutup lebih rendah pada Senin, karena kenaikan imbal hasil obligasi menekan saham teknologi dan saham pertumbuhan lainnya. Imbal hasil yang lebih tinggi biasanya merugikan perusahaan-perusahaan ini lantaran valuasinya sangat bergantung pada ekspektasi keuntungan di masa depan.

Penurunan saham teknologi berlanjut pada Selasa, namun tak sedalam sebelumnnya dengan dukungan dari kenaikan saham perangkat lunak yang melanjutkan tren positif.

Saham Workday naik 5,1 persen, Atlassian naik 3,3 persen, Intuit naik 4,1 persen, serta Zscaler dan ServiceNow masing-masing naik 3,9 persen dan 5,8 persen.

Indeks saham perangkat lunak melonjak 1,8 persen melanjutkan kenaikan sekitar 5 persen dalam tiga sesi sebelumnya.

Perusahaan cloud Akamai Technologies turun 3,9 persen setelah mengumumkan penawaran obligasi konversi senilai USD2,6 miliar.

Pada Rabu, investor akan mencermati risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve untuk mencari petunjuk seberapa besar dukungan di antara pembuat kebijakan untuk beralih ke sikap netral dari sebelumnya yang cenderung longgar.

Pasar memperkirakan peluang lebih dari 40 persen bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada Januari 2027, menurut alat FedWatch milik CME.

Laporan laba Nvidia, yang juga dirilis Rabu, menjadi ujian besar bagi pasar. Perusahaan paling bernilai di dunia ini akan diawasi ketat untuk melihat apakah permintaan berbasis AI cukup kuat untuk membenarkan valuasi tinggi di sektor semikonduktor.

Jumlah saham yang turun lebih banyak dibanding yang naik dengan rasio 2,89 banding 1 di NYSE dan 2,31 banding 1 di Nasdaq.

S&P 500 mencatat sembilan saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 20 saham mencapai level terendah baru, sementara Nasdaq mencatat 19 tertinggi baru dan 106 terendah baru.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement