sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Menguat, Dipicu Penurunan Harga Minyak dan Yield Obligasi

Market news editor Rahmat Fiansyah
21/09/2026 21:45 WIB
Bursa saham AS dibuka menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026) didorong penurunan harga minyak dan yield obligasi.
Bursa saham AS dibuka menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026) didorong penurunan harga minyak dan yield obligasi. (Foto: Dok. Freepik)
Bursa saham AS dibuka menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026) didorong penurunan harga minyak dan yield obligasi. (Foto: Dok. Freepik)

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026), didorong penurunan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi setelah mayoritas indeks utama Wall Street melemah pada pekan sebelumnya.

Indeks S&P 500 naik 0,66 persen pada pembukaan, sementara Nasdaq menguat 1,1 persen. Dow Jones Industrial Average (DJIA) bertambah sekitar 99 poin atau 0,19 persen.

Pada pekan sebelumnya, Dow Jones turun 1,7 persen, mencatat penurunan mingguan terdalam sejak Maret. S&P 500 juga turun sekitar 0,1 persen, sedangkan Nasdaq justru menguat 0,7 persen.

Harga minyak menjadi salah satu pendorong sentimen positif pada awal pekan. Minyak mentah AS turun sekitar 3,5 persen menjadi USD96,76 per barel, sementara Brent turun sekitar 2,9 persen menjadi USD100,85 per barel.

Penurunan harga minyak turut diikuti pelemahan yield obligasi. Yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun ke sekitar 4,97 persen, seiring meredanya tekanan dari pasar energi.

Perkembangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran melaporkan serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi pada Sabtu (19/9/2026). Departemen Luar Negeri AS kemudian meminta warga negaranya mempertimbangkan risiko perjalanan ke kawasan tersebut.

Di sisi lain, jalur diplomasi antara AS dan Iran masih terbuka. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia membuka peluang untuk mengadakan pertemuan singkat dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.

Chief Economist LPL Financial, Jeffrey Roach mengatakan ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga bahan bakar juga berdampak pada margin kilang minyak China. Selain itu, kondisi tersebut juga membuat The Fed lebih berhati-hati.

"The Fed telah mendasarkan prospek inflasinya pada asumsi bahwa pasar minyak akan kembali stabil," katanya dikutip dari Quartz.

Saham terkait kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu penggerak utama Wall Street. Saham Intel melonjak lebih dari 6 persen, Dell Technologies naik lebih dari 1 persen, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) menguat lebih dari 4 persen di tengah optimisme menjelang pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Menurut laporan The Wall Street Journal, pembicaraan tersebut antara lain mencakup usulan mekanisme pemberitahuan terkait insiden AI yang berpotensi berdampak terhadap keamanan nasional.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement