IDXChannel - Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Kamis (22/1/2026) waktu setempat didorong kombinasi data ekonomi AS yang solid serta meredanya ketegangan geopolitik menyusul pernyataan Donald Trump terkait kerangka kesepakatan Greenland.
Mengutip Investing, tiga indeks utama Wall Street menguat signifikan. Di mana Dow Jones Industrial Average melonjak 460 poin atau 0,9 persen. Indeks S&P 500 menguat 50 poin atau 0,7 persen, sementara Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan naik 210 poin atau 0,9 persen.
Penguatan ini melanjutkan reli yang terjadi pada perdagangan kemarin ketika Wall Street bangkit dari tekanan terdalam sejak Oktober. Sentimen investor membaik seiring berkurangnya kekhawatiran geopolitik yang sebelumnya membebani pasar, terutama terkait ancaman tarif dan ketegangan Amerika Serikat dengan negara-negara Eropa.
Dari sisi makroekonomi, sejumlah data terbaru menunjukkan ekonomi AS masih berada dalam kondisi relatif sehat menjelang rapat kebijakan moneter Federal Reserve pekan depan. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya, meskipun Gedung Putih terus melontarkan tekanan agar The Fed segera memangkas suku bunga.
Data klaim pengangguran mingguan memperkuat optimisme pasar. Jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran baru hanya naik 1.000 menjadi 200.000 pada pekan yang berakhir 17 Januari.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi ekonom di level 210.000, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup tangguh dan pertumbuhan lapangan kerja tetap stabil.
Selain itu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal III direvisi naik menjadi 4,4 persen secara tahunan, melampaui proyeksi 4,3 persen dan melonjak dari pertumbuhan 3,8 persen pada kuartal sebelumnya.
Capaian ini memperkuat narasi bahwa ekonomi AS masih resilien di tengah suku bunga tinggi. Meski demikian, pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi inti PCE untuk November, indikator inflasi favorit The Fed, yang akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga sepanjang tahun ini.
Sentimen pasar juga mendapat dorongan signifikan setelah Trump mengumumkan kerangka kesepakatan dengan NATO terkait Greenland. Langkah ini membuat pemerintah AS menarik rencana pengenaan tarif impor terhadap delapan negara Eropa mulai 1 Februari, sekaligus mengendurkan ancaman penggunaan kekuatan untuk mengambil alih wilayah tersebut.
Walau belum mengungkap detail kesepakatan, Trump menyebut masih ada pembahasan lanjutan terkait proyek pertahanan Golden Dome yang berkaitan dengan Greenland. Pernyataan tersebut dinilai cukup untuk menenangkan kekhawatiran pasar atas potensi konflik terbuka antara AS dan sekutu NATO.
"Situasi Greenland adalah salah satu krisis yang paling dibuat-buat dan tidak perlu di era Trump 2.0. Banyak pihak memang menduga ini akhirnya akan di-TACO-kan, dan tersingkirnya isu ini jelas berdampak positif,” tulis analis Vital Knowledge dalam catatannya.
(DESI ANGRIANI)