Selain itu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal III direvisi naik menjadi 4,4 persen secara tahunan, melampaui proyeksi 4,3 persen dan melonjak dari pertumbuhan 3,8 persen pada kuartal sebelumnya.
Capaian ini memperkuat narasi bahwa ekonomi AS masih resilien di tengah suku bunga tinggi. Meski demikian, pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi inti PCE untuk November, indikator inflasi favorit The Fed, yang akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga sepanjang tahun ini.
Sentimen pasar juga mendapat dorongan signifikan setelah Trump mengumumkan kerangka kesepakatan dengan NATO terkait Greenland. Langkah ini membuat pemerintah AS menarik rencana pengenaan tarif impor terhadap delapan negara Eropa mulai 1 Februari, sekaligus mengendurkan ancaman penggunaan kekuatan untuk mengambil alih wilayah tersebut.
Walau belum mengungkap detail kesepakatan, Trump menyebut masih ada pembahasan lanjutan terkait proyek pertahanan Golden Dome yang berkaitan dengan Greenland. Pernyataan tersebut dinilai cukup untuk menenangkan kekhawatiran pasar atas potensi konflik terbuka antara AS dan sekutu NATO.
"Situasi Greenland adalah salah satu krisis yang paling dibuat-buat dan tidak perlu di era Trump 2.0. Banyak pihak memang menduga ini akhirnya akan di-TACO-kan, dan tersingkirnya isu ini jelas berdampak positif,” tulis analis Vital Knowledge dalam catatannya.
(DESI ANGRIANI)