sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Rebound usai Aksi Jual Saham Teknologi Mereda

Market news editor Dhera Arizona Pratiwi
19/08/2026 21:32 WIB
Wall Street kembali pulih pada pembukaan perdagangan Rabu (19/8/2026) waktu setempat, setelah kemarin mengalami penurunan akibat tertekan oleh sektor teknologi.
Wall Street Dibuka Rebound usai Aksi Jual Saham Teknologi Mereda. (Foto Istimewa)
Wall Street Dibuka Rebound usai Aksi Jual Saham Teknologi Mereda. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Indeks-indeks utama di bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street, kembali pulih pada pembukaan perdagangan Rabu (19/8/2026) waktu setempat, setelah kemarin mengalami penurunan akibat tertekan oleh sektor teknologi.

Selain itu, penguatan juga dipengaruhi oleh sentimen investor mencermati berbagai kabar terbaru dari perusahaan.

Dilansir dari Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 119,94 poin atau 0,22 persen menjadi 53.463,34, S&P 500 naik 28,48 poin atau 0,37 persen ke level 7.720,24, dan Nasdaq Composite menanjak 67,17 poin atau 0,26 persen menjadi 26.356,89.

Saham produsen vaksin Moderna melonjak lebih dari dua kali lipat setelah terapi kanker mRNA personal yang dikembangkannya bersama Merck terbukti mengurangi risiko kekambuhan dan penyebaran melanoma dalam uji klinis tahap akhir.

Saham Merck melesat 9,6 persen, turut mendongkrak indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones.

Saham perusahaan bioteknologi lainnya juga mencatatkan kenaikan yakni Novavax naik 6,8 persen, sementara saham BioNTech yang tercatat di bursa AS melonjak 17,5 persen. Sektor layanan kesehatan S&P 500 menguat 2,7 persen hingga mencapai rekor tertinggi dan menjadi penopang terbesar kenaikan indeks acuan tersebut.

Marvell Technologies menanjak sekitar 9 persen setelah perusahaan pembuat chip tersebut memberikan waran kepada Google (milik Alphabet) untuk membeli saham senilai sekitar USD12,18 miliar.

Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mengalami tekanan jual yang tajam pada Selasa ketika imbal hasil obligasi pemerintah mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade akibat kekhawatiran mengenai lonjakan utang pemerintah dan faktor geopolitik yang mengguncang pasar obligasi.

Imbal hasil obligasi Treasury tenor 30 tahun turun dari level tertingginya sejak 2007 setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan skala operasi pembelian kembali (buyback) untuk mendukung likuiditas obligasi berjangka waktu panjang, sehingga meningkatkan selera risiko investor. Imbal hasil tersebut terakhir berada di angka 5,209 persen.

"Sebagian besar perusahaan teknologi dinilai terutama berdasarkan ekspektasi laba masa depan; ketika suku bunga merangkak naik, nilai ekspektasi tersebut menurun dan harga sahamnya pun ikut turun," ujar Manajer Portofolio Senior Dakota Wealth Robert Pavlik.

Selain itu, para investor juga mencermati laporan laba kuartalan dari perusahaan ritel untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi daya beli konsumen AS.

Perusahaan ritel acuan Walmart dijadwalkan untuk melaporkan laba kuartalannya pada hari ini, Kamis.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, bertolak belakang dengan klaim Iran yang menyebutkan bahwa selat tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent naik 0,2 persen, mencapai level tertinggi dalam hampir tiga minggu terakhir.

Indeks S&P 500 mencatatkan delapan rekor tertinggi baru dalam 52 minggu tanpa ada rekor terendah baru, sementara indeks Nasdaq Composite mencatat 60 rekor tertinggi baru dan 29 rekor terendah baru.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement