IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada Rabu (4/2/2026) waktu setempat dipicu penurunan saham Advanced Micro Devices, Palantir, dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya. Hal tersebut seiring kekhawatiran investor terhadap valuasi yang sudah mahal.
Melansir Investing, indeks S&P 500 turun 35,59 poin atau 0,51 persen ke level 6.882,22. Nasdaq Composite turun 350,61 poin atau 1,51 persen ke 22.903,13. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 246,56 poin atau 0,51 persen ke 49.487,55.
Saham Alphabet turun menjelang rilis laporan kinerja kuartalannya setelah penutupan pasar, yang akan memberi gambaran terbaru bagi investor tentang sejauh mana investasi besar pemilik Google di bidang AI berkontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan.
Saham Advanced Micro Devices anjlok setelah produsen chip tersebut memproyeksikan pendapatan kuartalan yang mengecewakan investor dan mengindikasikan kesulitan bersaing dengan raksasa AI, Nvidia.
Saham Nvidia ikut turun dan indeks semikonduktor PHLX ditutup melemah tajam.
Palantir merosot, membalikkan kenaikan tajam pada hari sebelumnya yang didorong oleh penjualan kuartalan yang kuat dari perusahaan data AI tersebut.
"Skala pembangunan infrastruktur ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan kecepatan adopsi alat AI oleh konsumen maupun bisnis juga belum pernah terjadi sebelumnya. Pasar saham sangat kesulitan menentukan harga saham yang tepat dan seperti apa masa depan nantinya. Pasar tiba-tiba menjadi skeptis dan khawatir,” kata manajer portofolio di Argent Capital, St. Louis, Jed Ellerbroek.
Investor yang menjual saham-saham terkait AI beralih ke perusahaan dengan valuasi lebih murah yang sebelumnya tertinggal dari reli teknologi dalam beberapa tahun terakhir.
Menahan penurunan lebih dalam pada S&P 500, saham produsen obat Eli Lilly melonjak setelah perusahaan memproyeksikan laba 2026 di atas ekspektasi Wall Street.
Perhatian investor juga tertuju pada laporan ketenagakerjaan pemerintah AS untuk Januari yang ditunda rilisnya dari jadwal semula akibat penutupan sebagian pemerintahan selama empat hari yang berakhir pada Selasa kemarin.
Namun, laporan ketenagakerjaan nasional ADP pada Rabu menunjukkan bahwa pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta AS pada Januari lebih rendah dari perkiraan, di tengah hilangnya lapangan kerja di sektor jasa profesional, bisnis, serta manufaktur.
(NIA DEVIYANA)