IDXChannel - Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (22/1/2026) waktu setempat, didorong meredanya kekhawatiran tarif serta data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan ketahanan. Penguatan ini menandai hari kedua berturut-turut indeks utama bergerak di zona hijau.
Penguatan pasar terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump menarik kembali ancaman tarif terhadap Eropa, menyusul langkah sebelumnya yang sempat mengguncang pasar global usai niatnya mencaplok Greenland dari Denmark. Sentimen tersebut memperbaiki minat risiko investor.
Kendati demikian, dua hari penguatan belum sepenuhnya menutup penurunan tajam yang terjadi awal pekan ini. Secara mingguan, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masih terkoreksi sekitar 0,4 persen, sementara Dow Jones Industrial Average cenderung mendatar.
CEO Investment Partners Asset Management, Gregg Abella menilai kondisi geopolitik global menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kondisi ketidakpastian ini membuat pengelolaan portofolio semakin menantang.
“Setiap hari seperti membuka kado Natal. Volatilitas mendorong manajer investasi untuk lebih menekankan diversifikasi lintas sektor dan kelas aset guna menjaga kinerja portofolio klien di tengah dinamika,” katanya dikutip dari Reuters, Jumat (23/1/2026).
Dow Jones Industrial Average naik 306,78 poin atau 0,63 persen ke level USD49.384,01. S&P 500 menguat 37,73 poin atau 0,55 persen ke posisi USD6.913,35, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 211,20 poin atau 0,91 persen menjadi USD23.436,02.
Musim laporan keuangan juga mulai memanas dan menjadi ujian bagi sentimen pasar. Seluruh saham kelompok “Magnificent Seven” ditutup menguat, dipimpin Meta Platforms yang melonjak 5,7 persen dan Tesla yang naik 4,2 persen.
Di sektor korporasi, saham Procter & Gamble menguat 2,6 persen setelah merilis kinerja kuartalan. Intel naik tipis 0,1 persen, sementara Abbott Laboratories anjlok 10 persen, menjadi penurunan harian terdalam sejak 2002 akibat proyeksi laba yang lebih lemah.
Sementara itu, saham GE Aerospace melemah 7,4 persen meski membukukan proyeksi laba tahunan di atas ekspektasi. McCormick juga turun 8,1 persen seiring proyeksi laba 2026 yang tertekan kenaikan biaya, termasuk dampak tarif.
Dari sisi data ekonomi, belanja konsumen AS tercatat tumbuh solid pada Oktober dan November. Klaim awal pengangguran juga naik lebih rendah dari perkiraan, sementara ekonomi AS tumbuh 4,4 persen pada kuartal III-2025, memperkuat optimisme pasar terhadap prospek ekonomi.
(Rahmat Fiansyah)