IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali ditutup menghijau dan mencetak rekor baru pada perdagangan Kamis (16/4/2026) waktu setempat. Kenaikan ini didorong optimisme meredanya konflik di Timur Tengah setelah Israel menyetujui gencatan senjata sementara dengan Lebanon serta sinyal pertemuan lanjutan antara AS dan Iran.
Perdagangan berlangsung fluktuatif setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Dia juga menyebut Iran bersedia tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun. Di sisi lain, laporan menyebutkan kesepakatan dengan Iran masih membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli menilai, pasar saat ini bergerak di antara sentimen positif dan netral terkait perkembangan geopolitik.
“Pasar bergerak antara berita yang lebih positif dan sedikit netral. Selama satu setengah bulan terakhir, perdagangan benar-benar didorong oleh perang Iran,” ujarnya dilansir Reuters.
Harapan diplomasi memang mengangkat sentimen pekan ini, namun sejumlah analis menilai dibutuhkan sinyal perdamaian yang lebih jelas untuk menjaga momentum. Meski begitu, data di pasar opsi menunjukkan reli saham masih berpotensi berlanjut.
Sementara itu, Direktur Per Stirling Capital Management, Robert PhippsPer melihat data ekonomi AS menunjukkan tren yang beragam. Klaim pengangguran mingguan turun lebih besar dari perkiraan, menandakan pasar tenaga kerja tetap stabil, meski perusahaan masih berhati-hati dalam menambah tenaga kerja akibat dampak konflik Iran.
“Perang masih menjadi pendorong paling penting bagi pasar. Tekanan sebelumnya sudah sangat besar ke bawah dan kini mulai berbalik. Sekarang pasar perlu kembali bergerak berdasarkan fundamentalnya,” ujarnya.
Secara indeks, Dow Jones Industrial Average naik 0,24 persen ke 48.578,72, S&P 500 menguat 0,26 persen ke 7.041,28, dan Nasdaq Composite naik 0,36 persen ke 24.102,70. Nasdaq mencatat kenaikan selama 12 hari berturut-turut, menjadi rekor terpanjang sejak Juli 2009.
Sebagian besar sektor dalam S&P 500 menguat, dengan sektor energi naik 1,6 persen seiring kenaikan harga minyak. Sementara itu, sektor kesehatan menjadi yang terlemah dengan penurunan 0,8 persen.
Dari sisi kinerja emiten, PepsiCo naik 2,3 persen setelah melampaui ekspektasi laba kuartalan. Sebaliknya, Abbott turun 6 persen setelah memangkas proyeksi laba tahunan. Charles Schwab menjadi penekan terbesar dengan penurunan 7,6 persen usai merilis laporan keuangan.
Saham Netflix juga turun 8 persen pada perdagangan setelah jam bursa, menyusul laporan kinerja kuartalan dan pengumuman mundurnya salah satu pendiri Reed Hastings pada Juni mendatang.
Secara keseluruhan, saham yang naik lebih banyak dibandingkan yang turun di Bursa New York maupun Nasdaq. Volume transaksi tercatat 18,22 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari terakhir sebesar 19,11 miliar saham.
(Rahmat Fiansyah)