IDXChannel - Wall Street bangkit dari kinerja yang beragam pada sesi sebelumnya dan berakhir lebih tinggi, terbantu oleh pemulihan saham teknologi serta penurunan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi Treasury.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,3 persen dan ditutup pada level 7.675,54 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,7 persen menjadi 26.151,30 poin, dan indeks unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average naik 0,3 persen menjadi 53.577,17 poin.
Pelaku pasar tampaknya menahan diri untuk melakukan langkah besar sehari sebelum rilis data inflasi penting dan laporan kinerja kuartalan Nvidia, perusahaan yang menjadi ikon utama sektor kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, para pedagang memantau ketegangan perdagangan yang meningkat antara Washington dan Ottawa setelah Kanada mengumumkan rencana pengenaan tarif balasan hingga 50 persen terhadap barang-barang AS senilai hampir USD28 miliar.
Nvidia Hentikan Tren Turun Harian Terpanjang sejak September 2022
Sektor teknologi S&P 500 mengawali pekan dengan kinerja negatif pada Senin, tertekan oleh saham-saham sektor memori dan semikonduktor. Pengumuman Samsung Electronics mengenai kisaran target pengembalian kepada pemegang saham untuk 2026 yang lebih rendah dari perkiraan juga turut membebani sentimen pasar, menyebabkan saham perusahaan yang terdaftar di bursa Korea itu turun hampir 9 persen. Namun, saham-saham tersebut pulih pada Selasa dan berakhir di posisi datar (tidak berubah).
"Setelah mengalami aksi jual tajam pada awal perdagangan Asia, saham SK Hynix dan Samsung stabil dan kembali menguat hingga berakhir datar. Hal itu memicu reli awal pada saham memori dan semikonduktor di Amerika Serikat. Kini, Nvidia memimpin reli tersebut dengan adanya pemulihan harga menjelang rilis laporan keuangan, setelah sebelumnya mengalami penurunan selama 8 hari berturut-turut. Sektor-sektor defensif yang sempat menguat kemarin kini mengalami aksi ambil untung (profit taking)," ujar kepala strategi pasar di Jones Trading, Michael O’Rourke, kepada Investing.com.
Saham Nvidia berakhir naik lebih dari 2 persen, sekaligus mengakhiri tren penurunan tujuh hari berturut-turut—penurunan terpanjang dalam hampir empat tahun terakhir. Perusahaan terbesar di dunia ini dijadwalkan merilis laporan kinerja kuartalan pada Rabu; laporan ini akan menjadi ujian besar bagi tren investasi AI yang sempat mendorong kenaikan Wall Street di awal tahun namun belakangan ini berada di bawah tekanan.
Sektor perdagangan terkait AI mengalami tahun yang penuh gejolak, dengan lonjakan luar biasa selama bulan April, Mei, dan Juni yang membantu pasar secara keseluruhan bangkit dari dampak konflik Timur Tengah dan kembali ke rekor tertinggi. Namun, kekhawatiran mengenai ketidakpastian imbal hasil atas investasi miliaran dolar yang digelontorkan perusahaan-perusahaan raksasa untuk infrastruktur AI menghentikan tren kenaikan bulanan tersebut; Philadelphia Semiconductor Index bahkan anjlok lebih dari 20 persen pada Juli.
Di tengah situasi ini, ekspektasi terhadap Nvidia berada pada tingkat yang sangat tinggi, karena investor ingin melihat apakah permintaan korporasi akan perangkat keras AI dapat membenarkan besarnya pengeluaran untuk teknologi tersebut. Meskipun pendapatan kuartalan produsen cihp ini diperkirakan akan hampir dua kali lipat secara tahunan (year-on-year) menjadi sekitar USD92 miliar, kinerja yang tidak benar-benar spektakuler bisa saja dianggap mengecewakan.
Pasar Obligasi dan Ketegangan AS-Kanada
Di sisi lain, para pemantau suku bunga kini menantikan data Rabu mengenai indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti bulan Juli, yang secara luas dianggap sebagai ukuran inflasi pilihan Federal Reserve (The Fes). Perhatian kemudian akan beralih pada pidato utama Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat.
Selain sentiment itu, ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada semakin memanas. Pembicaraan antara kedua negara Amerika Utara tersebut untuk mencapai kesepakatan gagal pada akhir pekan, dan tarif baru AS sebesar 50 persen terhadap impor Kanada senilai USD27,6 miliar mulai berlaku pada Sabtu. Ottawa berjanji akan menerapkan bea balasan dengan nilai yang setara dolar
Pada Selasa, Kanada menyatakan bahwa mulai 8 September, mereka akan "menerapkan tarif balasan sebesar 15, 25, dan 50 persen terhadap produk-produk yang juga dikenai tarif AS berdasarkan Bagian 338 dan Bagian 232, dengan besaran tarif untuk setiap produk disesuaikan agar sama dengan tarif yang ditetapkan AS."
Menurut pernyataan pemerintah Kanada, tarif tersebut akan berlaku untuk produk-produk impor dari AS senilai USD27,6 miliar yang mencakup berbagai sektor seperti baja, produk susu, peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, pulp dan kertas, serta elektronik.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras terhadap Kanada, dengan mengatakan bahwa negara tersebut telah mengenakan tarif "400 persen" kepada petani Amerika dan telah "membuat banyak perusahaan AS yang hebat gulung tikar."
"Selama 10 tahun mereka tidak mau memberikan sertifikasi untuk jet Gulfstream, sampai akhirnya saya turun tangan. Mereka menginginkan penguasaan pasar 100 persen bagi pesaing Gulfstream yang berasal dari Kanada. Saya berurusan dengan banyak negara, dan Kanada jelas merupakan negara yang paling sulit dan tidak masuk akal," ujar Trump melalui platform Truth Social miliknya. (Febrina Ratna Iskana)