IDXChannel - Wall Street pada Rabu (3/9/2026) rebound dari penurunan di sesi sebelumnya, seiring meredanya lonjakan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi Treasury. Lonjakan saham Dell Technologies pasca-rilis laporan keuangan dan kenaikan saham Nvidia turut menopang pasar.
Sementara data ekonomi yang solid mengenai pesanan pabrik AS mengimbangi data ketenagakerjaan sektor swasta yang lemah.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,5 persen dan ditutup pada level 7.667,80 poin, sementara indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi juga menguat 0,5 persen dan berakhir di level 26.217,83 poin. Indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average naik 0,6 persen dan menetap di level 53.061,51 poin.
Akhir Agustus dan awal September menjadi periode yang penuh gejolak bagi saham-saham AS, karena investor masih khawatir mengenai inflasi dan utang fiskal, kembali memanasnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran, serta kenaikan suku bunga oleh bank sentral.
"Agustus adalah bulan yang sangat kuat bagi pasar saham, dan setelah reli ini, investor kini ingin mengujinya dan mencari tahu faktor apa yang bisa menghambat lajunya. Meskipun pasar saham saat ini berfokus pada Iran dan lonjakan harga minyak, kami memilih untuk mengabaikan kebisingan geopolitik maupun faktor buatan manusia ini dan tetap memusatkan perhatian pada gambaran pertumbuhan laba perusahaan, yang pada akhirnya menjadi pendorong utama kenaikan harga saham," ujar Chief Investment Officer di Landsberg Bennett Private Wealth Management, Michael Landsberg, dikutip dari Investing.com, Kamis (3/9/2026).
Lebih lanjut, dia mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi pengingat bahwa harga saham dan obligasi bisa turun secara bersamaan dalam situasi di mana suku bunga naik dengan cepat. Obligasi secara tradisional dianggap sebagai sarana diversifikasi terhadap volatilitas saham; hal ini memang bisa berhasil, namun tidak selalu demikian.
“Investor sebaiknya memastikan mereka memiliki kelas aset lain yang benar-benar memberikan diversifikasi, seperti komoditas, untuk mengantisipasi kemungkinan suku bunga terus naik dan pada akhirnya turut menyeret turun harga saham," tambahnya.
Lonjakan Permintaan Server AI Dorong Dell Menaikkan Proyeksi Kinerja
Saham Dell melonjak hampir 16 persen dan mencatatkan kenaikan persentase tertinggi di indeks S&P 500, setelah perusahaan tersebut melampaui ekspektasi laba kuartalan dan mengungguli estimasi pendapatan dengan selisih yang cukup besar, didorong oleh lonjakan permintaan server kecerdasan buatan (AI) mereka. Perusahaan juga menaikkan proyeksi kinerja keuangan (baik pendapatan maupun laba) untuk tahun fiskal penuh.
Dell menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari lonjakan tren kecerdasan buatan (AI) yang dimulai pada akhir 2022. Perusahaan ini telah menjalin kemitraan dengan produsen cip untuk menjadi salah satu manufaktur terbesar server berskala rack yang tangguh serta infrastruktur yang mampu mendukung beban kerja AI. Dell telah mencatatkan pesanan server AI senilai puluhan miliar dolar dan mengumpulkan tumpukan pesanan (backlog) yang sangat besar.
Chief Operating Officer Dell, Jeff Clarke, menyatakan bahwa bisnis server AI mencatatkan rekor pesanan tertinggi sepanjang masa sebesar USD60,9 miliar, menghasilkan pendapatan USD16,4 miliar, dan menutup kuartal tersebut dengan rekor backlog senilai USD95 miliar.
Dalam panggilan konferensi terkait kinerja keuangan, Clarke mengatakan bahwa peluang bisnis kini melampaui sekadar infrastruktur yang dioptimalkan untuk AI, dan permintaan semakin meluas mencakup segmen neocloud, sovereign cloud (layanan cloud berdaulat), serta pelanggan korporat.
Di sisi lain, kenaikan saham Nvidia sebesar 3,2 persen turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Bloomberg News melaporkan bahwa raksasa pembuat cip AI tersebut sedang dalam tahap pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi Hugging Face—platform AI open-source yang dominan—dalam kesepakatan bernilai sekitar USD14 miliar.
Secara terpisah, Baird menegaskan kembali posisinya yang menjagokan saham Nvidia sebagai salah satu pilihan utama di kategori perusahaan berkapitalisasi besar (large-cap), dengan alasan kepemimpinan perusahaan yang berkelanjutan dalam komputasi AI serta pangsa pasar yang terus tumbuh di sektor inferensi AI.
Aksi Jual Obligasi Mereda
Aksi jual besar-besaran yang terus terjadi pada obligasi pemerintah mulai melambat pada Rabu, sehingga mengurangi tekanan terhadap pasar saham.
Pada Selasa, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) dan instrumen utama bertenor 10 tahun lainnya di seluruh dunia sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Imbal hasil acuan obligasi AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023, sementara imbal hasil tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.
Di wilayah lain, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menembus angka 3 persen untuk pertama kalinya sejak Agustus 1996, obligasi Jerman tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Maret 2011, dan obligasi pemerintah Inggris (gilt) tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2007.
Aksi jual ini dipicu oleh kekhawatiran mengenai inflasi di tengah tingginya harga minyak, kekhawatiran akan penerbitan utang yang tidak berkelanjutan oleh perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur AI mereka, serta membengkaknya utang fiskal. Kenaikan imbal hasil mendorong naiknya biaya pinjaman, yang pada gilirannya dapat membebani konsumen dan dunia usaha.
Lonjakan imbal hasil juga biasanya berdampak pada aset pertumbuhan (growth assets), khususnya saham teknologi. Seiring naiknya imbal hasil, tingkat diskonto pun meningkat, sehingga secara otomatis mengurangi nilai kini dari pendapatan masa depan. Sektor-sektor pertumbuhan dengan durasi tinggi, seperti perangkat lunak dan semikonduktor, menghadapi penyesuaian harga pasar yang paling signifikan.
"Salah satu argumennya adalah bahwa kenaikan imbal hasil obligasi bukanlah kabar buruk, melainkan kabar baik, karena hal itu merupakan konsekuensi logis dari laju pertumbuhan ekonomi yang sehat, terutama dalam nilai nominal. Hal ini juga bisa mencerminkan kembalinya kondisi normal setelah masa-masa tidak lazim pada tahun 2010-an dan awal 2020-an, ketika suku bunga acuan dan imbal hasil obligasi berada di dekat level nol. Kondisi tersebut menyiratkan biaya uang—dan waktu—yang hampir nol, sesuatu yang secara riil tidak masuk akal," ujar direktur investasi di AJ Bell, Russ Mould,
"Suku bunga dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dengan sendirinya tidak serta-merta menandakan berakhirnya tren kenaikan pasar saham (bull run)," tambahnya.
Kurva imbal hasil (yield curve) obligasi pemerintah AS (Treasury) stabil pada Rabu; imbal hasil tenor 10 tahun turun 1,6 basis poin menjadi 4,780 persen, dan tenor 2 tahun turun 2,1 basis poin menjadi 4,373 persen.
Data Pesanan Pabrik dan ADP Jadi Sorotan Jelang Laporan Ketenagakerjaan
Para pemantau suku bunga mencermati data tambahan mengenai ekonomi dan pasar tenaga kerja AS pada Rabu, menjelang laporan nonfarm payrolls di Agustus yang sangat dinanti-nantikan pada Jumat.
Data ADP menunjukkan sektor swasta AS menambah 38.000 lapangan kerja pada bulan Agustus—angka yang lebih rendah dari perkiraan 47.000 dan mencerminkan laju penciptaan lapangan kerja paling lambat sejak Januari. Data terbaru ini muncul sehari setelah data lowongan kerja AS bulan Juli tercatat lebih lemah dari perkiraan, meskipun sedikit meningkat dibandingkan angka bulan Juni yang telah direvisi turun.
"Laporan ADP yang lemah ini menyoroti risiko penurunan bagi laporan ketenagakerjaan pemerintah bulan Agustus yang akan dirilis hari Jumat. Fifth Third Commercial Bank memproyeksikan penurunan jumlah pekerja (payrolls) sebesar 25.000—angka di bawah konsensus—dalam laporan tersebut," ujar, kepala ekonom AS di bank tersebut, Bill Adams.
Dia menambahkan, tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di angka 4,1 persen seiring menyusutnya angkatan kerja, melanjutkan tren terkini—jumlah angkatan kerja berkurang 1,3 juta orang dalam dua belas bulan hingga Juli karena semakin banyak pekerja lanjut usia yang pensiun sementara jumlah lulusan baru dan imigran yang menggantikan posisi mereka lebih sedikit.
Di sisi lain, data sektor manufaktur AS yang kuat mengimbangi dampak data ADP tersebut. Pesanan baru untuk barang manufaktur naik 0,9 persen secara bulanan (month-on-month) pada Juli menjadi USD663,60 miliar, melampaui perkiraan kenaikan sebesar 0,7 persen.
Selain itu, laporan Beige Book terbaru dari Federal Reserve menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi regional meningkat secara moderat sejak awal Juli, di mana 10 dari 12 distrik Fed melaporkan pertumbuhan dalam kisaran tipis hingga moderat. (Febrina Ratna Iskana)