2. Kesehatan Mental dan Manajemen Stres
Konsumen semakin memperhatikan pola makan dan suplemen untuk membantu mengelola stres, meningkatkan fokus, dan menjaga keseimbangan mental sepanjang hari. Makanan yang kaya akan omega-3, magnesium, vitamin B, kolin, serta antioksidan semakin diminati.
Secara bersamaan banyak orang juga mulai mengurangi konsumsi alkohol demi mendukung kondisi tubuh yang lebih segar di pagi hari dan energi yang lebih konsisten.
Selain nutrisi, aktivitas pereda stres seperti yoga, berjalan kaki, meditasi, dan olahraga ringan menjadi bagian dari rutinitas harian. Pada 2026, upaya mendukung kejernihan mental melalui pola makan dan kebiasaan hidup akan sepenuhnya menjadi praktik arus utama.
3. Transparansi dan Kepercayaan terhadap Bahan Baku
Konsumen mulai meninggalkan aturan makan yang kaku dan beralih pada kebutuhan akan kejelasan terkait kandungan produk yang mereka konsumsi. Alih-alih mengejar klaim label yang rumit, masyarakat kini mencari daftar bahan yang jelas, formulasi yang memiliki tujuan, serta merek yang dapat dipercaya.
Minat terhadap makanan yang diproses secara minimal, menggunakan bahan yang mudah dikenali, dan mendukung pendekatan berbasis pangan utuh serta nabati juga semakin meningkat, terutama di kalangan konsumen muda.
Fokusnya bukan lagi pada kesempurnaan, melainkan pada pemahaman proses pembuatan produk dan keyakinan terhadap kualitasnya.
4. Peningkatan Nutrisi yang Dipersonalisasi
Nutrisi akan semakin disesuaikan dengan kebutuhan individu. Masyarakat mulai menyesuaikan pola makan dan konsumsi suplemen untuk mendukung keseimbangan hormon, kekuatan tulang, kesehatan metabolik, serta pemulihan—dengan menyesuaikan rutinitas seiring perubahan kondisi tubuh dan tahap kehidupan.
Perubahan ini mencerminkan pendekatan nutrisi yang bekerja selaras dengan tubuh, bukan melawannya. Personalisasi kini bukan lagi konsep khusus, melainkan solusi praktis untuk membantu masyarakat merasa lebih baik dalam keseharian.