AALI
9925
ABBA
300
ABDA
6550
ABMM
1390
ACES
1290
ACST
193
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
835
ADMF
7625
ADMG
182
ADRO
2260
AGAR
346
AGII
1400
AGRO
1260
AGRO-R
0
AGRS
159
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
177
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1125
AKRA
800
AKSI
705
ALDO
1315
ALKA
310
ALMI
0
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.41
-1.23%
-6.31
IHSG
6667.01
-0.88%
-59.36
LQ45
948.63
-1.16%
-11.14
HSI
24758.92
-0.83%
-206.63
N225
27371.11
-0.55%
-151.15
NYSE
16397.34
-1.6%
-266.43
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,343
Emas
845,552 / gram

Delisting Jadi Konsekuensi Go Private Bagi Perusahaan Tercatat di BEI

MILENOMIC
Shifa Nurhaliza
Minggu, 10 Oktober 2021 12:20 WIB
Konsekuensi go private sudah harus diterima dengan lapang dada oleh perusahaan yang memilih melepas status sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia.
Delisting Jadi Konsekuensi Go Private Bagi Perusahaan Tercatat di BEI. (Foto: Konsekuensi Go Private)
Delisting Jadi Konsekuensi Go Private Bagi Perusahaan Tercatat di BEI. (Foto: Konsekuensi Go Private)

IDXChannel – Konsekuensi go private sudah harus diterima dengan lapang dada oleh perusahaan yang memilih melepas status sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investopedia menjelaskan adapun salah satu manfaat dari go private yakni membebaskan waktu dan usaha manajemen untuk fokus terhadap tujuan-tujuan jangka panjang perusahaan.

Seperti diketahui, dalam dunia pasar modal jika suatu perusahaan telah menjadi perusahaan terbuka atau go public, maka perusahaan tersebut harus memenuhi serangkaian persyaratan yang ditetapkan dalam aneka peraturan, baik itu peraturan bursa, peraturan Otoritas Jasa Keuangan hingga undang-undang yang telah ditetapkan.

Pengertian dari go private itu sendiri merupakan aksi korporasi yang merupakan perlawanan dari tindakan go public yakni menjadi perusahaan tertutup. Konsekuensi go private bagi perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu akan di delisting. 

Delisting itu sendiri merupakan penghapusan pencatatan dari daftar saham di bursa dikarenakan tidak memenuhi ketentuan-ketentuan di bursa tersebut. Pada saat perusahaan melakukan go private akan diikuti dengan tindakan delisting oleh pihak BEI. Pada saat perusahaan memutuskan menjadi perusahaan terutup, maka saham perusahaan yang sebelumnya tercatat di bursa akan dihapuskan dari daftar saham yang dapat diperdagangkan. 

Delisting itu sendiri sudah menjadi kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak BEI dan otoritas terkait untuk mengeluarkan perusahaan tersebut dari daftar bursa. Bursa Efek Indonesia dapat melakukan proses deliting dengan syarat-syarat berikut: 

(1). Rencana delisting tersebut telah memperoleh persetujuan RUPS perusahaan tercatat; dan 

(2). Delisting dapat dilakukan jika telah tercatat di Bursa setelah tercatat sekurang-kurangnya 5 tahun; 

(3). Perusahaan tercatat atau pihak lain yang ditunjuk, wajib membeli saham yang tidak menyetujui keputusan RUPS.

Konsekuensi lainnya yakni, emiten juga wajib menyampaikan agenda RUPS kepada Bapepam-LK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Bapepam IX.I.1 sebagai pedoman pelaksanaan RUPS untuk meminta persetujuan pemegang saham. Nantinya, dalam RUPS yang berhak menentukan persetujuan go private untuk menyetujui atau menolak rencana go private tersebut adalah pemegang saham independen. 

Beberapa perusahaan yang terdaftar di BEI sebelumnya juga telah memutuskan menjadi perusahaan tertutup, diantaranya Golden Missisipi (AQUA) yang go private pada 2010, Sorini Agro Asia Corporindo (SOBI) pada 2017, dan Merck Sharp Dohme Pharma (SCPI) pada 2020.

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD