sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Survei Sun Life 2026: Biaya Hidup Naik, 80 Persen Masyarakat Terhimpit secara Finansial

Milenomic editor Kurnia Nadya
12/06/2026 12:59 WIB
Hasil survey menunjukkan sejumlah indikasi pelemaha daya beli karena tekanan kenaikan harga yang signifikan.
Survei Sun Life 2026: Biaya Hidup Naik, 80 Persen Masyarakat Terhimpit secara Finansial. (Foto: Istimewa)
Survei Sun Life 2026: Biaya Hidup Naik, 80 Persen Masyarakat Terhimpit secara Finansial. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Survei Resilience Index 2026 yang dilakukan Sun Life Indonesia menunjukkan bahwa 80 persen masyarakat mengaku merasakan tekanan berat dari peningkatan biaya hidup saat ini. 

Survei yang dilakukan bersama Genpop pada April 2026 terhadap 1.000 responden di seluruh Indonesia ini menangkap potret bahwa kenaikan biaya hidup menjadi faktor utama yang mengguncang ketahanan finansial rumah tangga.

Studi ini menyoroti rapuhnya pertahanan finansial keluarga di Tanah Air. Tercatat hanya 14 persen responden yang merasa sangat aman secara finansial.

Sementara itu, 45 persen responden mengaku hanya mampu bertahan lebih dari enam bulan jika tiba-tiba kehilangan penghasilan. Hal ini mengindikasikan mayoritas rumah tangga memiliki dana darurat yang sangat terbatas.

Meskipun kelompok masyarakat yang tergolong "sangat tangguh" secara finansial naik dari 30 persen ke 34 persen, penurunan justru terjadi pada kelompok menengah. Hal ini memicu peningkatan jumlah rumah tangga dengan ketahanan rendah, yang menandakan pemulihan ekonomi belum merata.

Selain itu, pengeluaran untuk prioritas jangka pendek mendominasi. Akibat tekanan ini, 56 persen responden kini lebih fokus pada pengelolaan pengeluaran sehari-hari dalam 12 bulan ke depan, alih-alih fokus pada menabung maupun investasi. 

Bahkan, 48 persen responden mengaku belum memiliki rencana keuangan jangka panjang, atau maksimal hanya merencanakan keuangan hingga satu tahun ke depan.

Sehingga, survei menyatakan bahwa untuk menyiasati lonjakan biaya hidup, masyarakat melakukan berbagai langkah darurat jangka pendek yang berisiko bagi masa depan mereka.

Ada 26 persen partisipan yang mengurangi atau menunda pengeluaran kebutuhan penting, ada 23 persen lainnya terpaksa menguras tabungan mereka, dan lima persen partisipan memilih menunda kontribusi dana pensiun.

Literasi Keuangan Terbukti Mampu Bantu Individu di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Di tengah ketidakpastian ekonomi, tingkat literasi keuangan atau kemahiran mengelola uang terbukti menjadi pembeda utama antara mereka yang stres dan yang tetap tenang.

Individu yang melek finansial mencatat skor 53 poin lebih tinggi dalam indeks kepercayaan finansial (dengan skala 100 poin) dan tiga kali lebih mungkin merasa siap menghadapi kenaikan biaya hidup. 

Mereka juga memiliki tingkat optimisme terhadap kondisi keuangan di masa depan yang 47 poin lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki literasi rendah.

Manfaat perencanaan keuangan jangka panjang juga terlihat sangat kontras pada hasil studi ini. Di antara responden yang memiliki rencana jangka panjang, sebanyak 86 persen merasa yakin dapat mencapai tujuan keuangan mereka (dibandingkan hanya 25 persen pada kelompok tanpa rencana). 

Selain itu, 78 persen dari mereka merasa siap menghadapi keadaan darurat finansial, angka yang melonjak jauh dibandingkan dengan kelompok tanpa perencanaan yang hanya menyentuh 13 persen.

President Director Sun Life Indonesia—Albertus Wiroyo—mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi saat ini menuntut masyarakat untuk pintar menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dan target masa depan.

“Di sinilah peran mitra keuangan yang dapat dipercaya menjadi semakin penting, untuk memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian saat ini sekaligus membantu merencanakan masa depan,” ucap Albertus dalam sebuah keterangan, Rabu (10/6/2026).

Menariknya lagi, studi ini menemukan fenomena baru di mana masyarakat Indonesia mulai berpaling ke teknologi kecerdasan artifisial (AI) untuk mencari solusi keuangan. Indonesia bahkan menjadi salah satu yang terdepan di Asia dalam hal adopsi generative AI untuk panduan finansial.

Sebanyak 68 persen responden mengaku menggunakan generative AI untuk mencari informasi dan panduan keuangan, dan 67 persen responden memperkirakan pemanfaatan AI akan terus meningkat dalam satu tahun ke depan.

Meskipun AI menjadi sarana praktis untuk membandingkan pilihan dan memahami topik keuangan harian, Sun Life menegaskan teknologi ini tidak akan menggantikan peran penasihat keuangan manusia. 

Khusus untuk keputusan yang kompleks dan berdampak jangka panjang, sentuhan profesional tetap menjadi sumber kepercayaan utama.

“Teknologi mengubah cara masyarakat mengakses informasi, namun tidak menggantikan kebutuhan akan panduan ahli. Penguatan fondasi literasi tetap penting agar individu dapat mengevaluasi informasi secara kritis dan menavigasi lanskap keuangan yang semakin kompleks,” kata Albertus.


(Eugenia Siregar)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement