Selain merusak bangunan sekolah, gempa juga mengganggu proses belajar mengajar. Kemendikdasmen mencatat sebanyak 116.328 murid mengalami gangguan pembelajaran akibat bencana tersebut.
"Saat ini pembelajaran 116.328 murid terganggu dan pelaksanaan pembelajaran mengikuti kebijakan dari gubernur NTT untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah dan di tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai karena gempa susulan yang masih terus berlangsung," kata Atip.
Atip mengatakan sebanyak 923 satuan pendidikan menerapkan pembelajaran dari rumah, 171 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran daring, 35 sekolah menggunakan kelas darurat, dan 30 sekolah masih melaksanakan pembelajaran tatap muka.
"Kemendikdasmen telah menerbitkan panduan pembelajaran di masa darurat, fleksibilitas moda dan materi, penekanan pada materi esensial literasi numerasi dasar dan dukungan psikososial," kata Atip.
Untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan, Kemendikdasmen juga menyiapkan ruang kelas darurat secara bertahap bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Saat ini, pemerintah mendistribusikan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas darurat dan diharapkan mulai digunakan untuk kegiatan belajar pada pekan depan.