sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bajak Laut Somalia Kembali Marak, 4 ABK WNI Jadi Sandera

News editor Wahyu Dwi Anggoro
27/04/2026 10:37 WIB
Pihak berwenang memperingatkan peningkatan aktivitas bajak laut di perairan Somalia dalam beberapa hari terakhir.
Bajak Laut Somalia Kembali Marak, 4 ABK WNI Jadi Sandera. (Foto: Freepik)
Bajak Laut Somalia Kembali Marak, 4 ABK WNI Jadi Sandera. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Pihak berwenang memperingatkan peningkatan aktivitas bajak laut di perairan Somalia dalam beberapa hari terakhir.

Dilansir dari Seatrade Maritime News pada Senin (27/4/2026), the United Kingdom Maritim Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kargo dibajak di lepas pantai Somalia pada Minggu kemarin. Ini merupakan insiden yang kedua dalam sepekan.

Pada Rabu, sebuah kapal tanker minyak bernama Honour 25 juga dibajak di area yang sama. Kapal berbendera Palau tersebut membawa 17 kru, termasuk empat warga negara Indonesia (WNI).

“Karena meningkatnya ancaman kemungkinan aktivitas bajak laut, kapal-kapal disarankan untuk berlayar dengan hati-hati dan melaporkan aktivitas mencurigakan apa pun kepada UKMTO sementara pihak berwenang melakukan penyelidikan," kata UKMTO dalam pernyataannya.

Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) telah meningkatkan tingkat ancamannya untuk Pantai Somalia/Cekungan Somalia menjadi “substansial”.

“Sebuah kapal tanker produk minyak dilaporkan ditahan oleh bajak laut di pantai timur laut Somalia. Tidak ada laporan cedera. Secara terpisah, sebuah Kelompok Aksi Bajak Laut dilaporkan aktif di Cekungan Somalia. Kapal-kapal di sekitarnya disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan dan meninjau panduan,” kata JIMC dalam pembaruannya pada 26 April.

Aksi bajak laut di Somalia merupakan momok bagi industri pelayaran internasional pada 2008-2011, dengan puncak aktivitas terjadi pada 2011 ketika lebih dari 200 serangan dilaporkan di wilayah tersebut. Modus operandi para bajak laut adalah membajak kapal dan menahan kapal serta awaknya untuk meminta tebusan.

Kebangkitan kembali aktivitas pembajakan di Somali terjadi pada saat industri pelayaran menghadapi berbagai ancaman keamanan di wilayah tersebut. Selat Hormuz saat ini ditutup untuk pelayaran karena perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Alhasil, hampir 1.000 kapal dan 20.000 awak terdampar di Teluk Persia. AS saat ini juga sedang melakukan blokade di Laut Arab terhadap semua lalu lintas ke dan dari pelabuhan Iran. 

Terdapat juga kemungkinan serangan dari kelompok militan Houthi di Laut Merah dan Bab el-Mandeb untuk mendukung Iran, meskipun tidak ada serangan yang dilaporkan terhadap kapal dagang di perairan tersebut selama perang. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement