sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BGN Hentikan Pendaftaran SPPG Baru, Dapur Lama yang Tak Sesuai Standar Akan Diblokir

News editor Puteranegara
04/06/2026 22:10 WIB
BGN di bawah kepemimpinan Nanik S. Deyang bakal bersikap tegas dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar sesuai aturan.
BGN di bawah kepemimpinan Nanik S. Deyang bakal bersikap tegas dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar sesuai aturan. (Foto: Ist)
BGN di bawah kepemimpinan Nanik S. Deyang bakal bersikap tegas dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar sesuai aturan. (Foto: Ist)

IDXChannel - Badan Gizi Nasional (BGN) di bawah kepemimpinan Nanik S. Deyang baru saja ditunjuk menggantikan Dadan Hindayana, bakal bersikap tegas dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar sesuai aturan. Nanik bakal menutup Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak sesuai standar serta menghentikan sementara pendaftaran dapur baru.

Nanik menjelaskan, kebijakan penutupan SPPG yang bermasalah demi meningkatkan efisiensi anggaran BGN sekaligus memperkuat tata kelola puluhan ribu dapur MBG yang saat ini telah beroperasi.

"Pembenahan dapur-dapur yang telah berdiri dan telah beroperasi agar sesuai dengan standar untuk menghasilkan makanan yang berkualitas, termasuk perbaikan dan pelatihan SDM. Artinya, bila dapur itu tidak sesuai, tentu kami akan lakukan suspend (blokir)," kata Nanik di Kantor BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026). 

Nanik mengungkapkan, antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi membangun SPPG baru sangat tinggi. Oleh karena itu, dia berencana menghentikan proses tersebut sementara waktu untuk menata ulang SPPG yang sudah ada.

"Jadi, kita sekarang ini kan banyak sekali yang mendaftar dan posisinya ada persiapan, ada apa gitu. Nah, saat ini sudah ada sekitar 27 ribu lebih dapur yang sudah operasional. Kami akan beresin dulu ini," ujar Nanik.

Nanik mengatakan penataan dan penghentian sementara ini juga didorong oleh ketimpangan distribusi SPPG di lapangan. Dia menilai sebaran dapur yang ada saat ini terlalu terkonsentrasi di kawasan aglomerasi atau perkotaan sehingga melupakan sasaran prioritas.

"Karena apa? Jujur sekarang yang numpuk ini di aglomerasi, yang 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden (Prabowo Subianto) pesannya ke kami harus ke 3T dulu," pungkasnya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement