Eddy mengungkapkan, modifikasi cuaca seringkali dilakukan di saat yang tidak tepat, yakni pada puncak musim penghujan. Hal ini membuat sulit dibedakan mana hasil intervensi manusia dan mana fenomena alam murni.
Bahkan, kata dia, banyak negara di Asia Tenggara mulai meninggalkan praktik ini karena risiko yang lebih besar daripada manfaatnya.
"Anda membuat hujan buatan di daerah penghujan, di saat musim hujan hasilnya pasti hujan. Mana yang alami, mana buatan bisa dibedain? Makanya negara-negara at least South East Asia, mereka tahu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Saya sebenarnya tuh pada kesempatan ini Jakarta pasti kaji kembali," ujar dia.
Selain itu, modifikasi cuaca bukan teknologi penjamin untuk mengendalikan hujan secara tepat. Bahkan kecerdasan buatan (AI) sekalipun, yang bisa memastikan di mana air hujan tersebut akan jatuh setelah awan disemai tidak bisa menjamin.