"Siapa yang bisa menjamin? Kalau awan yang saya semai itu jatuh di Jatiluhur? Teknologi apa? AI mana yang bisa menjamin? Enggak, tidak ada kepastian apapun. Oleh karena itu, saran saya coba dikaji-dikaji ulang. Deep analysis, deep science. Jangan sampai garam yang kita tabur bukannya air," ujar Eddy.
Eddy juga menyoroti anomali penggunaan modifikasi cuaca di Indonesia yang seharusnya dilakukan pada momen yang tepat. Bukan hanya pada saat hujan ekstrem namun juga saat musim kemarau dimana banyak lahan kekeringan karena air waduk atau danau yang surut.
"Kita gini, musim basah air di mana-mana, musim kemarau kering di mana-mana. Jadi maju kena mundur kena. Inginnya kita kemarau panjang ada hujan buatan karena waduk butuh air. Yang tidak lain adalah awan-awan yang besar tadi kita karbit supaya dia jangan jatuh di darat. Betul? Berarti di laut," kata dia.
(Dhera Arizona)