IDXChannel - China dan Rusia menggunakan hak veto terhadap resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Resolusi yang diajukan Bahrain ini mendorong negara-negara untuk mengoordinasikan upaya perlindungan pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara melakukan pemungutan suara dengan hasil, 11 suara mendukung resolusi, dua suara menentang yakni China dan Rusia, serta dua negara abstain.
Rusia dan China menyatakan bahwa resolusi tersebut bersifat bias terhadap Iran.
Dilansir dari Reuters, Rabu (8/4/2026), Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong mengatakan, mengadopsi rancangan resolusi semacam itu saat AS mengancam kelangsungan hidup sebuah peradaban akan mengirimkan pesan yang salah.
"Resolusi ini bias terhadap Iran, sebab saat mengadopsi draft ini, Amerika Serikat tengah merencanakan penghancuran bagi rakyat sipil Iran," kata Fu Cong.
Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, mengatakan Rusia dan China mengusulkan resolusi alternatif mengenai situasi di Timur Tengah, termasuk keamanan maritim. Teks resolusi tersebut mendesak pengurangan eskalasi permusuhan yang sedang berlangsung dan kembali ke jalur diplomasi.
Kementerian Luar Negeri China mengatakan, PBB harus bertindak untuk meredakan ketegangan, menghentikan konflik, dan melanjutkan pembicaraan.
"Dewan Keamanan PBB tidak boleh digunakan untuk mendukung tindakan perang ilegal, apalagi memperparah situasi," kata juru bicara kementerian, Mao Ning.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, memuji langkah China dan Rusia, dengan mengatakan,
"Tindakan mereka hari ini mencegah Dewan Keamanan disalahgunakan untuk melegitimasi agresi," kata Irvani.
Iravani menambahkan bahwa utusan pribadi Sekretaris Jenderal PBB sedang dalam perjalanan ke Teheran untuk melakukan konsultasi.
Utusan tersebut, Jean Arnault, yang berangkat ke Timur Tengah pada hari Senin, bermaksud mengunjungi Iran sebagai bagian dari upayanya untuk mendorong diakhirinya perang, namun rencana perjalanannya akan bergantung pada keamanan dan logistik.
China dan Rusia menggunakan hak veto mereka meskipun Bahrain telah melemahkan drafnya secara signifikan setelah China menentang pemberian wewenang penggunaan kekuatan.
Draf yang diajukan untuk pemungutan suara itu tidak lagi memuat wewenang penggunaan kekuatan. Referensi eksplisit mengenai penegakan yang mengikat, yang terdapat dalam draf sebelumnya, juga dihilangkan.
Teks tersebut dengan tegas mendorong negara-negara untuk mengoordinasikan upaya-upaya yang bersifat defensif, sesuai dengan keadaan, guna berkontribusi dalam memastikan keselamatan dan keamanan navigasi di Selat Hormuz.
Teks tersebut juga menyebutkan bahwa kontribusi tersebut dapat mencakup pengawalan kapal dagang dan komersial serta mendukung upaya untuk mencegah upaya penutupan, penghalangan, atau gangguan lainnya terhadap navigasi internasional melalui Selat Hormuz.
(Nur Ichsan Yuniarto)