“Sejak Februari 2026, kasus suspek 10.000-an. Jika melihat data 2025, kasus suspek 60.000–63.000 dengan angka kematian 69 kasus. Jadi bisa dibayangkan, jika suspeknya sudah setinggi ini, lalu kita tidak melakukan apa pun, angkanya pasti akan jauh lebih tinggi,” tambah Laurentia.
Lebih lanjut, dia membagikan beberapa kondisi fisik seseorang yang tidak dianjurkan untuk vaksinasi. Yakni pasien dengan penyakit kronis, mengonsumsi obat-obatan tertentu (misalnya steroid), penderita penyakit jangka panjang, dan usia rentan (bayi kecil, ibu hamil, dll.).
Sedangkan bagi para orang tua dan masyarakat, Laurentia merekomendasikan beberapa langkah untuk meningkatkan kekebalan tubuh guna mencegah penyakit yang menular lewat udara ini.
Pertama, vaksinasi campak secara rutin yang bisa dilakukan sejak anak usia 9 bulan, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rutin mencuci tangan, jangan berkerumun jika tidak perlu, dan melakukan isolasi diri apabila sakit atau menunjukkan gejala campak.
Gejala Klinis dan Fase Penyakit Campak yang Harus Diwaspadai
“Ciri-ciri kondisi klinis campak dapat dilihat berdasarkan fasenya, yaitu fase inkubasi, prodromal, dan erupsi,” tambah dr. Laurentia.