"Kita tidak bisa mengabaikan kondisi saat ini. Harga avtur meningkat, nilai tukar juga berubah, dan Arab Saudi menerapkan standar layanan yang lebih tinggi. Semua faktor tersebut tentu memengaruhi biaya penyelenggaraan haji," jelasnya.
Kendati sejumlah faktor eksternal memengaruhi besaran biaya, Atalia menegaskan, setiap komponen yang diajukan pemerintah harus ditelaah secara rinci.
Menurutnya, pembahasan yang dilakukan DPR RI bersama pemerintah harus memastikan bahwa setiap penyesuaian biaya benar-benar memiliki dasar yang kuat dan diikuti oleh peningkatan kualitas pelayanan kepada jemaah.
"Yang paling penting adalah seluruh usulan tersebut dikaji secara matang. Apabila memang terjadi kenaikan biaya, maka harus dipastikan bahwa kualitas layanan kepada jemaah juga meningkat," tegasnya.
Sebelumnya, pemerintah mengusulkan BPIH tahun 1448 H/2027 M sebesar Rp107.340.172,02 per jamaah. Usulan tersebut selanjutnya akan dibahas bersama Komisi VIII DPR RI melalui Panitia Kerja (Panja) Haji sebelum ditetapkan sebagai besaran BPIH tahun 2027.
(Nadya Kurnia)