Menurut BMKG, kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap berkurangnya ketersediaan air, meluasnya titik panas, serta potensi kebakaran pada lahan yang mudah terbakar.
“Meski demikian, hujan lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah akibat pengaruh dinamika atmosfer. Di tengah dominasi musim kemarau, hujan lebat masih terjadi secara lokal di sejumlah wilayah,” tulis keterangan BMKG.
Pada periode 24–27 Juli 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Utara dengan intensitas 128 mm per hari, Sumatera Barat 116 mm per hari, Kalimantan Utara 88 mm per hari, Papua 87 mm per hari, dan Aceh 65 mm per hari.
BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang berdampak pada Sumatera bagian utara dan Sulawesi Tengah. Selain itu, Madden-Julian Oscillation (MJO) aktif di sebagian Sumatera bagian tengah hingga selatan. Sementara itu, Siklon Tropis Noul di Laut Filipina, sebelah utara Maluku Utara, turut meningkatkan suplai uap air dan pertumbuhan awan hujan, terutama di Kalimantan Utara.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang di sejumlah wilayah. Kondisi ini juga memicu peningkatan kecepatan angin permukaan hingga lebih dari 20 knot di sejumlah wilayah, sehingga potensi angin kencang, pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, dan gangguan aktivitas masyarakat juga perlu diwaspadai.