Selain PLTSa, Pramono menyebut Jakarta juga mengandalkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang saat ini sudah berjalan di beberapa titik untuk memaksimalkan penyerapan sampah harian.
"Jakarta juga punya yang namanya Rorotan dan Bantargebang untuk RDF. Maka dengan demikian kalau ini berjalan lancar alhamdulillah, mudah-mudahan persoalan Jakarta tentang sampah, Insya Allah akan terserap di lapangannya," katanya.
Pramono pun optimis teknologi ini dapat mengatasi beban volume sampah yang masif di Jakarta.
Menyusul runtuhnya gunungan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) Bantargebang beberapa waktu silam, Bantargebang mulai menerapkan pengelolaan sampah terbatas setelah sebelumnya sempat tidak menerima buangan sampah sama sekali.
Mulai Agustus 2026, Bantargebang hanya akan menerima sampah residu (popok sekali pakai, tisu kotor, pembalut, dll). Masyarakat Jakarta pun diminta untuk mulai menyortir sampahnya sendiri.
(Nadya Kurnia)