sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Hizbullah Tolak Keras Gencatan Senjata Israel-Lebanon

News editor Wahyu Dwi Anggoro
05/06/2026 09:45 WIB
Kelompok militan Hizbullah dengan tegas menolak persyaratan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Hizbullah Tolak Keras Gencatan Senjata Israel-Lebanon. (Foto: Inews Media Group)
Hizbullah Tolak Keras Gencatan Senjata Israel-Lebanon. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Kelompok militan Hizbullah dengan tegas menolak persyaratan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

"Hal tersebut sia-sia dan memalukan," kata pemimpin Hizbullah Naim Qassem dalam pernyataannya, dilansir dari BBC pada Jumat (5/6/2026).

"Ini ditolak oleh sebagian besar rakyat Lebanon," katanya.

Pekan ini, Israel dan Lebanon mengumumkan pembaruan gencatan senjata mereka yang rapuh. Kesepakatan tersebut mengharuskan Hizbullah untuk berhenti menyerang Israel, serta keluar dari Lebanon selatan yang merupakan basis utamanya.

Meski menjadi lawan Israel di Lebanon, Hizbullah tidak berpartisipasi dalam negosiasi.

Media Lebanon melaporkan bahwa Israel tetap menyerang Lebanon selatan pada Kamis, setelah pembaruan gencatan senjata diumumkan.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan setidaknya delapan orang tewas dan 15 lainnya terluka pada Kamis dalam serangkaian serangan yang menargetkan kota-kota Sohmor, Masaken, dan Arab Al-Jalil di Lebanon selatan.

Sementara itu, pasukan penjaga perdamaian di Lebanon, UNIFIL, mengatakan salah satu personelnya meninggal karena peluru mortir menghantam posisinya di dekat Marjayoun pada Rabu malam.

Lebanon terseret ke dalam perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pada 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. 

Hizbullah merupakan salah satu sekutu utama Iran. Israel merespons dengan kampanye udara di seluruh Lebanon dan invasi darat di selatan.

Gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon pada 16 April gagal menghentikan pertempuran. Pekan lalu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mengintensifkan serangannya terhadap Hizbullah dan maju lebih dalam ke Lebanon sebagai respons terhadap serangan pesawat tak berawak dan roket di Israel utara.

Perwakilan kedua negara akan bertemu lagi pada 22 Juni untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut dengan tujuan mencapai kesepakatan komprehensif. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement