“Ini berarti mereka dapat mengendalikannya hanya dengan artileri
Mereka bahkan tidak perlu menggunakan rudal atau drone untuk menyerang kapal. Ini tentu akan menjadi pukulan besar bagi pelayaran Arab Saudi dan pelayaran internasional,” kata Pusztai.
Konflik antara Houthi dan Arab Saudi kembali memanas dalam beberapa bulan ke belakang. Kelompok itu mengumumkan blokade terhadap kapal asal Negeri Petrodolar tersebut di Laut Merah baru-baru ini.
Houthi merebut sejumlah wilayah Yaman, terutama bagian barat yang bersebelahan dengan Laut Merah, pada 2014 dari pemerintah.
Setahun setelahnya, Arab Saudi membantu pemerintah Yaman dan mendukung koalisi untuk memukul mundur Houthi.
Memanasnya konflik antara Houthi dan Arab Saudi terjadi di tengah perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Blokade yang dilakukan kelompok itu semakin menyulitkan ekspor minyak Riyadh setelah lumpuhnya Selat Hormuz. (Wahyu Dwi Anggoro)