Dadan menjelaskan, peningkatan daya beli pegawai SPPG menjadi salah satu faktor pendorong. “Jadi kalau ada 50 orang, kali 60 persen artinya 30 orang beli motor, sehingga (penjualan) motornya naik,” paparnya.
Tak hanya sepeda motor, sektor otomotif roda empat juga ikut terdampak. Dia menyebut salah satu merek mobil yang sebelumnya kurang diminati kini mengalami peningkatan permintaan signifikan karena kebutuhan operasional SPPG.
“Kemudian juga berdampak terhadap salah satu merek mobil yang sedang beredar di masyarakat dan itu populer, yang selama ini mungkin tidak laku, karena satu WPBG butuh dua mobil, kalau sekarang sudah ada 23.000 SPPG, itu artinya dibutuhkan 46.000 mobil jenis itu, dan sekarang termasuk mobil yang sulit dicari,” beber Dadan.
Dampak MBG pun terasa di sektor pertanian dan pangan. Petani hidroponik disebut mengalami lonjakan omzet hingga dua kali lipat. “Petani hidroponik senang, karena naik omsetnya 100 persen,” tutur Dadan.
Tak hanya itu, pelaku usaha kecil seperti produsen tahu yang sempat terpuruk kini kembali menggeliat. “Ada pengusaha tahu yang sudah hampir bangkrut, sekarang bangkit kembali,” ujarnya.