Menurut Nashrul, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemeringkatan kesejahteraan dan kebijakan penyaluran bansos merupakan dua hal yang perlu dibedakan. Perubahan kondisi sosial ekonomi seseorang dapat memengaruhi posisi desilnya, sedangkan keputusan mengenai pemberian bansos tetap mengikuti kebijakan kementerian yang menjalankan program tersebut.
Hal serupa juga berlaku bagi masyarakat yang secara pemeringkatan masuk dalam kelompok desil yang berhak menerima bansos, tetapi kemudian masuk dalam daftar yang dikecualikan berdasarkan kebijakan kementerian.
Nashrul mencontohkan penerima bansos yang berada di desil 1 tetapi terindikasi bermain judi online. Meskipun secara tingkat kesejahteraan masih berada di desil 1, penerima tersebut dapat dicoret dari daftar penerima bantuan berdasarkan kebijakan Kementerian Sosial.
"Contohnya apa? Yang judol (judi online). Begitu dia judol walaupun dia desil satu layak dapat bantuan, kan kebijakan teman-teman Kemensos itu kemudian jadi dicoret, gitu. Itu negative list namanya. Tapi apakah yang judol itu kemudian desilnya jadi naik? Nggak. Desilnya bisa jadi tetap dia desil satu, gitu," kata dia.
Dengan demikian, penerima bantuan perbaikan rumah tidak otomatis kehilangan hak atas bansos hanya karena kondisi rumahnya membaik atau kelompok desilnya berubah. Penentuan penerima bansos tetap bergantung pada kebijakan dan ketentuan program dari kementerian terkait.
(Nur Ichsan Yuniarto)