Menanggapi koreksi tersebut, Suharyanto langsung menyesuaikan istilah yang digunakan. “Uang saku, Bapak, siap,” jawab Suharyanto.
Prabowo kemudian menegaskan bahwa dana tersebut lebih tepat disebut sebagai uang semangat, sembari menekankan semangat pengabdian prajurit TNI. “Uang semangat, tidak mengenal lelah,” kata Prabowo.
“Siap, tidak mengenal lelah, siap,” jawab Suharyanto.
Prabowo juga menekankan bahwa TNI memiliki tugas pengabdian kepada bangsa dan negara sebelum meminta Kepala BNPB melanjutkan pemaparannya.
“Tidak mengenal lelah, berbakti kepada negara dan bangsa. Oke, lanjut,” kata Prabowo.
Dalam lanjutan laporannya, Suharyanto menjelaskan bahwa pembangunan dan perbaikan jembatan di wilayah terdampak bencana dibiayai oleh BNPB dengan mekanisme kerja terlebih dahulu, kemudian dilaporkan untuk proses penggantian anggaran.
“Kemudian untuk kebutuhan jembatan dan sebagainya, jembatan gantung semuanya dibiayai oleh pemerintah lewat BNPB. Memang mekanismenya BNPB itu bekerja dulu, setelah diaudit, nanti yang dikeluarkan itu ditagihkan. Kemudian kami audit BPKP, berapa jumlahnya itu baru dimintakan ke Kementerian Keuangan,” kata dia.
(Febrina Ratna Iskana)