Bagi Saenah, kehadiran modal itu terasa sederhana, tetapi nyata. Ada barang-barang usaha yang kini bisa dibeli, ada kain yang dapat diperoleh, dan ada modal yang kembali berputar. “Dengan Mekaar, alhamdulillah itu dapat gitu ya. Barang-barang bisa kebeli. Sudah beli kain, sudah dapet juga buat usaha,” tuturnya sederhana.
Cerita dari tanah Baduy ini menjadi gambaran bagaimana PNM menjalankan perannya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Bagi PNM, menjangkau wilayah 3T bukan hanya tentang memperluas titik layanan, tetapi tentang mendatangi masyarakat yang membutuhkan akses, bahkan ketika perjalanan menuju mereka membutuhkan usaha lebih besar.
Karena itu, di berbagai wilayah dengan tantangan geografis serupa, PNM mengoperasikan ratusan unit layanan yang secara khusus berupaya menjangkau nasabah di titik-titik yang sulit disentuh layanan formal. Kehadiran tersebut juga tidak berhenti pada pembiayaan. Model bisnis PNM Mekaar menggabungkan modal usaha dengan pendampingan, agar nasabah tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk memulai atau memperbesar usaha, tetapi juga memiliki ruang untuk terus belajar dan bertumbuh.
Semangat untuk hadir sampai ke titik yang paling sulit dijangkau tersebut sejalan dengan pesan Direktur Utama PNM Kindaris. Menurutnya, ukuran keberhasilan PNM bukan semata-mata pada besarnya pembiayaan yang disalurkan. “Setiap perempuan prasejahtera di Indonesia berhak mendapatkan pembiayaan dan pemberdayaan dimanapun lokasi mereka. Itu lah yang terus PNM upayakan, sejauh mana perusahaan mampu menghadirkan harapan bagi masyarakat bahkan yang berada di wilayah paling sulit dijangkau,” jelas Kindaris.
Di Baduy, harapan itu hadir dalam bentuk yang mungkin terlihat sederhana berupa modal untuk membeli hasil bumi, menjaga warung tetap berjalan, atau membuat usaha terus berputar. Tetapi di balik angka tersebut ada keberanian untuk mencoba, kesempatan untuk bertumbuh, dan keyakinan bahwa akses terhadap pembiayaan tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa jauh seseorang tinggal dari pusat kota.
Tiga pencairan pertama di tanah Baduy luar akhirnya menjadi lebih dari sekadar catatan penyaluran pembiayaan. Ia menjadi penanda bahwa ketika ada perempuan yang ingin mengembangkan usahanya, PNM bersedia menempuh jalan yang lebih jauh untuk menemuinya.
“Tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dihadiri PNM memberikan pembiayaan dan pemberdayaan selama masih ada perempuan yang ingin usahanya tumbuh,” tutup Kindaris.
(Shifa Nurhaliza Putri)