IDXChannel - Di ujung kawasan Baduy luar, perjalanan menuju rumah-rumah warga tidak selalu bisa ditempuh dengan kendaraan. Semakin jauh melangkah, jalan berubah menjadi jalur setapak yang membelah rimbunnya hutan. Infrastruktur yang biasa memudahkan layanan keuangan formal terasa begitu jauh. Di kawasan permukiman Lebak 2, rumah-rumah warga berdiri menyatu dengan alam, jauh dari titik-titik yang lazim didatangi wisatawan.
Di tempat seperti inilah, kebutuhan untuk mengembangkan usaha tetap tumbuh. Hasil bumi harus diperjualbelikan ketika musim panen tiba. Warung harus tetap berputar. Kain khas Baduy dan tas koja terus dibuat sebagai bagian dari keterampilan dan sumber penghidupan masyarakat. Namun, ketika modal dibutuhkan, pilihan layanan keuangan formal tidak selalu mudah dijangkau. Jarak dan akses menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang ingin mengembangkan usaha dari rumah.
Keterbatasan akses itulah yang kemudian membawa cerita baru. Bukan masyarakat yang harus berjalan jauh mencari layanan keuangan, tetapi layanan yang datang mendekati mereka.
Melalui program Mekaar, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM untuk pertama kalinya hadir di tanah Baduy luar dan menyalurkan pembiayaan kepada tiga perempuan asli suku Baduy bernama Saenah, Juni, dan Sarti. Ketiganya merupakan warga Lebak 2, yang rumahnya berada jauh di dalam kawasan permukiman dan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki melewati jalur hutan.
Perjalanan menuju rumah nasabah bukan sekadar perjalanan menembus jarak. Ada tujuan yang lebih besar yaitu memastikan keterbatasan geografis tidak menjadi alasan bagi perempuan pelaku usaha di wilayah terpencil untuk kehilangan kesempatan mengembangkan penghidupannya.
Saenah menjadi salah satu yang merasakan langsung kehadiran tersebut. Ia menjalankan usaha jual beli hasil bumi, sembari menganyam tas koja dan menenun kain khas Baduy. Pembiayaan pertama sebesar Rp4 juta dari PNM Mekaar digunakannya untuk membeli hasil bumi saat musim panen. Di kelompok yang sama, Juni memperoleh pembiayaan Rp6 juta untuk menopang usaha warungan dan jual beli hasil bumi, sementara Sarti menerima Rp4 juta untuk memperlancar perputaran modal usaha jual beli hasil bumi.
Menariknya, ketiganya tidak serta-merta mengenal layanan keuangan formal. Mereka mengenal PNM Mekaar justru dari lingkungan terdekat yaitu saudara mereka yang lebih dahulu menjadi nasabah dan merasakan manfaatnya. Ketika kebutuhan modal datang, terutama pada musim panen, proses pengajuan yang mereka nilai mudah dan tidak berbelit membuat mereka berani mengambil pembiayaan pertama dalam hidup mereka.