AALI
8750
ABBA
226
ABDA
6025
ABMM
4470
ACES
650
ACST
193
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
760
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
296
AGII
2400
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
104
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
143
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1700
AKRA
1375
AKSI
328
ALDO
680
ALKA
286
ALMI
396
ALTO
178
Market Watch
Last updated : 2022/09/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.62
-0.34%
-1.81
IHSG
7112.45
-0.21%
-15.05
LQ45
1015.98
-0.41%
-4.21
HSI
17860.31
0.03%
+5.17
N225
26571.87
0.53%
+140.32
NYSE
0.00
-100%
-13797.00
Kurs
HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas
794,741 / gram

KUH Jeddah Terus Ingatkan Muassasah Umrah Saudi Cek Legalitas Izin Travel

SYARIAH
Widya Michella
Jum'at, 19 Agustus 2022 09:30 WIB
Konsul Haji KJRI Jeddah mengingatkan para syarikah atau muassasah penyelenggara umrah di Arab Saudi agar memperhatikan status penyelenggaraan perjalanan umrah.
Konsul Haji KJRI Jeddah mengingatkan para syarikah atau muassasah penyelenggara umrah di Arab Saudi agar memperhatikan status penyelenggaraan perjalanan umrah.
Konsul Haji KJRI Jeddah mengingatkan para syarikah atau muassasah penyelenggara umrah di Arab Saudi agar memperhatikan status penyelenggaraan perjalanan umrah.

IDXChannel - Konsul Haji KJRI Jeddah Nasrullah Jasam mengingatkan para syarikah atau muassasah penyelenggara umrah di Arab Saudi agar memperhatikan status penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah (PPIU), berizin atau tidak. Sebab, regulasi di Indonesia mengatur bahwa jamaah umrah Indonesia harus berangkat melalui PPIU atau travel yang telah memiliki izin dari Kementerian Agama. 

Hal ini disampaikan oleh Nasrullah saat melakukan pertemuan dengan para pengurus sembilan Syarikah/Muassasah Umrah di Saudi, Kamis,(18/08/2022).

"Jika ada travel yang tidak berizin memberangkatkan jamaah, maka itu adalah tindakan kriminal/pidana dan dapat dikenakan hukuman penjara. Kami meminta agar muasasah mengecek legalitas perizinan travel yang akan diajak kerjasama,"kata Nasrullah dikutip dalam laman resmi Kemenag, Jumat,(19/08/2022).

Pada pertemuan itu, Nasrullah berharap agar rencana pemerintah Arab Saudi untuk memberlakukan sistem bussines to consumer (B to C) dalam penyelenggaraan umrah, dapat dibatalkan. Sebab, dengan skema B to C, maka saat keberangkatan, tidak ada yang bertanggung jawab jika ada masalah yang menimpa jamaah saat berada di Arab Saudi.

"Skema B to C juga tidak sejalan dengan regulasi di Indonesia yang mengharuskan pemberangkatan jamaah umrah melalui PPIU berizin,"ujar dia.

Selain masalah perizinan, lanjut  Nasrullah, Kementerian Agama juga sudah mengatur bahwa PPIU harus memiliki standar layanan minimal dalam pemberangkatan jamaah umrah. Standar layanan tersebut antara lain:

1. Kesesuaian paket layanan dengan perjanjian tertulis dengan jemaah

2. Transportasi pesawat maksimal 1 kali transit

3. Hotel di Makkah maksimal 1000 meter dari Masjidil Haram dan maksimal 700 meter dari Masjid Nabawi. "Jika lebih dari itu, harus disediakan bus shuttle untuk jamaah," tukas Nasrullah.

4. Satu kamar maksimal diisi empat orang.

5. Konsumsi 3 kali sehari

Karena itu, kami minta agar muasasah atau syarikah juga berkomitmen terhadap layanan transportasi, hotel, dan konsumsi jamaah,"kata Nasrullah. 

"Saat kedatangan dan kepulangan jamaah umrah, juga harus ada petugas muasasah yang ikut menjemput/memberangkatkan mereka di Bandara, termasuk mengurus tasrih jamaah umrah untuk masuk Raudah Masjid Nabawi," ujarnya.

(NDA) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD