“Jadi, pusat studi Al-Quran bukan hanya ada di Timur Tengah, tapi juga ada di Indonesia," kata dia.
Menurut Menag, cahaya Al-Quran yang dipancarkan dari Indonesia harus memberikan sinar yang lebih terang bagi masa depan peradaban. Dia meyakini karakter pemahaman Al-Quran di Indonesia yang moderat dan harmonis merupakan aset penting yang dibutuhkan oleh dunia internasional saat ini.
Terkait keberlangsungan lembaga dan program kaderisasi mufasir, Menag optimistis persoalan pendanaan dan operasional dapat segera dicarikan solusi yang konkret. Dia menyebut dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, akan menjadi pilar utama dalam menjaga eksistensi program-program tersebut.
“Cahaya Al-Quran di Indonesia harus memancarkan sinar yang lebih terang untuk masa depan. Mumpung Pak Presiden masih bersama kita dan didukung oleh para tokoh-tokoh kita yang lain, saya kira persoalan pendanaan dan keberlanjutan itu insya Allah bisa diselesaikan,” ujar Menag.
Menag juga menekankan pentingnya peran kader mufasir dalam menyebarkan pesan-pesan harmoni di tengah masyarakat plural. Dia berharap para kader PSQ terus konsisten dalam membumikan nilai-nilai Al-Quran yang selaras dengan nilai kebangsaan dan persatuan di Indonesia.
(Dhera Arizona)