IDXChannel - Pemerintah dan seluruh petugas haji Indonesia diminta untuk memperkuat mitigasi risiko menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Fase Armuzna dinilai menjadi titik paling krusial dalam rangkaian ibadah haji karena melibatkan perpindahan jutaan jamaah dalam waktu hampir bersamaan dan berpotensi memicu persoalan serius di lapangan.
Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, M. Nasir Djamil mengingatkan, pelaksanaan haji tahun lalu harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, terutama terkait banyaknya jamaah lanjut usia yang terlantar usai mabit di Muzdalifah.
Saat itu, kata dia, sejumlah jamaah kesulitan menemukan tenda pemondokan di Mina hingga menunggu berjam-jam dalam kondisi kelelahan fisik dan tekanan psikologis.
“Tahun lalu banyak jamaah lansia yang terdampar setelah mabit di Muzdalifah. Sampai waktu zuhur mereka belum menemukan pemondokan di Mina, sementara mereka juga harus mengejar waktu lempar jumrah,” kata Nasir, Senin (25/5/2026).
Dia menambahkan, lemahnya pengendalian lapangan dan koordinasi petugas menjadi salah satu penyebab munculnya kepanikan jamaah.
Karena itu, ia meminta petugas kloter, ketua rombongan, dan ketua regu menjalankan fungsi pendampingan secara maksimal selama proses perpindahan jamaah berlangsung.